Semangat Sembuh untuk Sausan (3)


Dua hari lalu saya menerima sms dari Pak Arief ayahanda Sausan yang mengabarkan bahwa ia sudah mengirimkan email tentang perkembangan Sausan. Berikut ceritanya di email:

***

Assalamu’alaikum.

Alhamdulillah kondisi Sausan pagi ini menunjukan ada perkembangan baik / kemajuan. Bicaranya tambah banyak dan tambah jelas. Udah mulai minta nonton TV. Saya rasakan kondisi seperti ini sebenarnya bukan baru kali ini saja. Jauh beberapa waktu lalu sebelum kankernya membesar seperti sekarang, Allah telah menunjukkan beberapa sinyal baik, yaitu membaiknya kondisi Sausan. Waktu itu ketika tumor sudah sebesar kira2 bola tenis, saya niat saya untuk keluar dari bank konvensional tempat saya bekerja semakin kuat. Sausan yang sudah sekian bulan hanya bisa tiduran dan duduk pun hanya sebentar, tiba – tiba turun dan berjalan sendiri walau tertatih – tatih , limbung, dan akhirnya terjatuh. Namun semangatnya tetap terus menguat. Namun qadarallah syaithon terus dengan kuat pula membisikkan was was kepada saya sehingga akhirnya saya tunda lagi untuk resign dari bank padahal saya sudah mengetahui keharaman bekerja di bank. Dan akhirnya qadarallah pula, kondisi Sausan memburuk lagi seperti sekarang dengan pembesaran tumor yang sudah sedemikian rupa.

Kedatangan Ustadz Achmad Sabtu lalu alhamdulillah menghasilkan pencerahan kepada saya. Ustadz Achmad memberi nasehat dan saran kuat kepada saya untuk segera membuat surat pengunduran diri dari bank tempat saya sekarang bekerja. Saya sempat ragu karena justru saat Sausan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya, saya malah keluar dari tempat saya sekarang bekerja sementara belum ada pengganti nafkah lain. Memang selama 2 tahun perjalanan sakitnya Sausan, saya sudah berikhtiar untuk melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Namun qadarallah sampai sekarang belum berhasil. Insya Allah hari ini saya akan membuat surat pengunduran diri dan otomatis saya tidak perlu lagi mengurus kepastian pertanggungan asuransi kesehatan Sausan yang merupakan salah satu fasilitas dari kantor. Ustadz Achmad sangat meyakinkan saya bahwa insya Allah dengan saya resign dari bank, Allah akan memberikan keputusan yang terbaik untuk Sausan, dan harapan dan doa kita semoga Allah memberi kesembuhan kepada Sausan.

Kemarin sore Profesor Djaya yang merupakan dokter inti Sausan visit untuk yang pertama kalinya dan dia berpendapat bahwa kemungkinan kesembuhan Sausan tinggal 20%-30%. Alhamdulillah saya dan istri sama sekali tidak terpengaruh oleh pendapat dokter tersebut karena yakin hakikinya semua itu adalah hak prerogatif Allah. Qadarallah Pak Agus, istru Bu Rinny sedang besuk Sausan dan mendengar semua dialog antara saya dengan Prof.

Menurut Prof, kemo terapi dan penyinaran tidak bisa banyak membantu untuk mengecilkan / membunuh sel tumor Sausan karena kemungkinan besar penyebaran sudah kemana – mana. Sedangkan untuk operasi pengangkatan bola mata, tumor harus mengecil dulu untuk menghindari pendarahan hebat saat operasi. Bisa dibayangkan betapa panjang waktu dan tahapan yang diperlukan Sausan dalam terapi medis ini.

Subhanallah, sepertinya team dokter sudah pesimis / mentok. Saya pun semakin yakin saya harus segera mengundurkan diri dari bank tempat saya bekerja sekarang tanpa harus mempedulikan masalah asuransi dan pengganti nafkah terlebih dahulu.

Hanya yang saya bingung dan bimbang, apakah treatment versi medis masih tetap terus diperlukan, mengingat tahapan2 yang akan dilalui Sausan cukup panjang dan melelahkan untuk Sausan, dan itu pun menurut teori kedokteran, kemungkinan sembuhnya hanya 20%-30%. Khawatir Sausan semakin menderita. Tapi kalau diteruskan dengan terapi herbal, qadarallah sampai sekarang belum ada ramuan herbal yang terbukti bisa mengecilkan / menghilangkan tumor mata Sausan.

Arief

***

Mohon maaf karena kesibukan saya yang sedang UAS, baru hari ini saya bisa posting cerita kepada teman-teman.

Saya tidak  bisa banyak berkomentar. Pasti sebuah pilihan yang sulit untuk Pak Arif mengundurkan diri dari pekerjaan ditengah sakitnya Sausan. Tapi itulah kemantapan hati. Seperti sebuah nazar, menurut Pak Arif-ketika saya berbincang dengannya di telepon- dulu ia pernah berniat dalam hati apabila Sausan memperlihatkan perkembangan baik, ia akan resign dari pekerjaannya di sebuah bank konvensional dan mencari pekerjaan baru yang bebas dari riba atau berwirausaha saja. Tapi niat tersebut selalu ditunda dengan alasan ragu-ragu dan was-was. Dan kali ini, seperti ditegur, Sausan pun menunjukkan perkembangan baik, nazar itupun ditagih. Maka, tak mau melewatkan momen ini, Pak Arif segera memutuskan untuk resign.

Mungkin akan banyak diantara kita yang bertanya dengan keputusan ini, tapi teman, itulah hidup. Ada hal yang tidak bisa dibohongi di dalam hati kita tentang keberadaan Tuhan. Keberadaan Allah. Menurut Ust. Ahmad yang sekarang sedang menangani terapi Sausan, salah satu hal yang akan membantu proses penyembuhan adalah bersihnya diri kita dari hal-hal yang haram. Ust. Yusuf Mansur yang belum lama ini juga sempat berbincang dengan Ust. Ahmad ttg keadaan Sausan juga sependapat dengan pendapat tersebut, bahwa beratnya penyakit bukan hanya disebabkan dari hal-hal yang bersifat fisik tapi juga dari penyebab-penyebab abstrak.

Sebagai orang awam, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Sausan. Semoga semakin banyak doa semakin meringankan juga beban sakitnya. Barusan saya menerima info bahwa malam ini TVOne akan menayangkan berita Sausan di acara Apa Kabar Malam pukul 20.30 – 23.00, semoga ada di antara kita yang menonton untuk mengetahui perkembangan kondisi Sausan.

 

Apabila teman2 bermaksud memberi bantuan materil buat Ananda Sausan, dapat mengirimkan bantuannya ke :

Rekening a/n Bapak Arief Muslim (orangtua Ananda Sausan)

BCA ACC# 1281362025

Bank Bukopin ACC# 0101048377

 

Wallahua’lam bishshowwab..

Sausan di TVOne


Hari ini saya mendapat kabar bahwa TVOne akan menayangkan berita tentang Sausan live malam ini di acara Apa Kabar Malam pukul 20.30 – 23.00. Mohon kesediaan teman-teman untuk melihat acara tersebut untuk mengetahui kondisi terakhir Sausan. Semoga semakin banyak doa, semakin ringan penderitaan Sausan. Amiiin…

Sausan dengan penyakit retinoblastoma yang dideritanya

 

No. rekening untuk menyalurkan bantuan dana bisa langsung transfer ke

BCA  1281362025 atau Bank Bukopin 0101048377 an. Arief Muslim

Dibutuhkan segera! Relawan Posko Peduli Sausan


Dear teman semua, bagi yang berminat menjadi Relawan di Posko Peduli Sausan, bisa mengirimkan data dirinya ke saya melalui email atau sms ke 08568217478 (Mila) 082111331025 (Ust. Ahmad). Insya Allah akan sangat membantu untuk kepentingan pengobatan dan kesembuhan Sausan. Terima kasih..

“Ya Rabb, hanya kepadaMu kami berserah diri dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan”

Semangat Sembuh untuk Sausan (2)


Sabtu, 8 Januari kemarin Alhamdulillah saya berkesempatan  menjenguk Sausan di RSCM Kavling Tumbuh Kembang Anak no. 10. Sampai di kav.Tumbuh Kembang saya bingug karena pintunya terkunci dari dalam, saya pun menelepon Pak Arif, ayah Sausan. Ternyata saya masuk lewat pintu belakang yang biasanya hanya dilalui oleh perawat dan dokter. Tapi tak lama, pintu kaca itupun terbuka, dibukakan oleh salah satu perawat jaga yang melihat saya kebingungan di depan pintu. Masuklah saya ke kamar no. 10. Bau khas yang pernah saya cium ketika menjenguk Sausa dirumah beberapa waktu lalu langsung menyengat di hidung. Saya pun tak mau bereaksi over karena kaget dan segera masuk menyalami orangtua Sausan yang menunggu samping tempat tidur. Terlihat Sausan begitu lemas terbaring, selang infus terpasang di tangan kiri dan kaki kanannya. Benjolan terlihat lebih besar dari sebelumnya, menyisakan sedikit mulut dan satu matanya, sedangkan yang lain tertutup. Harus memiringkan muka dulu untuk bisa melihat mata dan mulut Sausan. Yaaaaa Rabb..

“Iya, memang agak sedikit membesar, dan tadi hanya saya balut dengan asal sehingga kelihatan lebih besar lagi”, kata sang bunda.

“kok banyak bekas darah di perbannya ya, apa benjolannya luka?”, tanya saya

Ternyata memang ada beberapa titik dari benjolan itu yang luka dan mengeluarkan darah. Darah bukan menetes lagi tapi mengucur, membuatnya harus dilap berkali-kali. Untuk menyiasatiya, sang bunda memakaikan panty-liner herbal sebagai pengganti tisu. Panty-liner tersebut di tutupkan diatas luka kemudian dibalut perban, seperti kalau kita memakai  plester. Dalam satu kali pemakaian Sausan membutuhkan 4 buah panty-liner, dan satu hari minimal ganti 2x.

benjolan yang semakin membesar

Sayapun berbincag-bincang dengan Pak Arif. Menurutnya, walaupun belum sempat dikunjungi oleh Profesor yang akan menangani penyakit Sausan, saat ini Sausan sudah mendapatkan perawatan medis dari salah satu dokter disana.  Katanya akan segera dilakukan beberapa rangkaian tes untuk menentukan pengobatan yang tepat.

“Menurut dokter akan ada 3 kali CT scan,  untuk mata, otak dan seluruh tubuh. Setelah itu pengambilan (apa saya lupa) dan pengambilan cairan dari otak melalui sumsum tulang belakang. Saya tidak bisa membayangkan sakitnya mbak”, cerita Pak Arif

“Olesan herbal dan air zam-zam juga masih digunakan”, tambahnya

Ngilu rasanya mendengar cerita tersebut, apalagi membayangkan Sausan yang sekecil itu harus menjalani tes-tes tadi. Astaghfirullah.. menahan sakit bekas infus di tangan kiri pun ia tak kuat, berkali-kali ia minta punggung tangan kanannya diusap karena sakit bekas suntikan.

benjolan kelenjar getah bening membesar dan merah

 

Tak lama Pak Arif mendapat kabar bahwa ust. Ahmad akan datang menjenguk. Maka saya pun ikut menunggu. Mudah-mudahan bisa ikut melihat terapi yang akan dilakukan untuk Sausan. Sambil menunggu kami berbicang mengenai dana yang ada untuk pengobatan Sausan.

“Asuransi yang saya punya tidak meng-cover penyakit Sausan mbak, tapi saya belum mau memikirkan masalah biaya. Saya takut nanti saya malah stres sama masalah biaya dan mengesampingkan pengobatan Sausan. Sekarang yang penting Sausan bisa ditangani dulu. Saya juga yakin biaya akan banyak, ini aja baru masuk sudah diminta deposit uang kamar 4,5 juta. Biaya obat dll saya gak tau.”

Menunggu 30 menit, Ust. Ahmad datang dan langsung menengok kondisi Sausan. Setelah berbincang-bincang mengenai kondisi Sausan, maka Ust. Ahmad pun memulai terapi. Ust. Ahmad mencoba berbicara kepada Sausan tapi Sausan menolak dan hanya mau dengan ibunya. “Ibu..mau sama Ibu..”, rintihnya.

Akhirnya posisi Ust. Ahmad diganti dengan Pak Arif. Dengan bimbingan Ust. Ahmad, Pak Arif mulai mencoba berbicara dengan Sausan. Suasana hening seketika. Ketika terapi dimulai dengan istighfar, rasanya mau pecah tangis saya. Apalagi kemudian Pak Arif dituntun untuk melafazkan keikhlasannya terhadap penyakit Sausan.

“Ya Rabb, walaupu anak saya terkena penyakit kanker mata, saya ridho dan saya ikhlaskan kesembuhan dariMu..”

Sausan pun ikut diam seolah ikut berdoa.

Semua mendoakanmu nak..

Terapi Insya Allah akan dilakukan berkelanjutan dan ust. Ahmad bersedia membantu sebisa beliau untuk kesembuhan Sausan.

***

Saya pun pamit pulang dan mendekati Sausan kembali.

“Sausan cepat sembuh ya Nak ya.. nanti dibawakan buku cerita. Sausan mau dibacakan buku cerita?”

Sausan mengangguk..

Ya Rabb.. hanya kepadaMu kami berserah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.

Rayyan menjenguk kawan barunya, mengajak Sausan bermain boneka

catatan:

* Ust. Ahmad membuka Posko Peduli Sausan di Perumaha Bumi Pertiwi 1 Jl.  Mangga Delima blok N 10 Cilebut Timur.

Hp: 082111331025

* No. rekening untuk menyalurkan bantuan dana bisa langsung transfer ke

BCA  1281362025 atau Bank Bukopin 0101048377 an. Arief Muslim

* sangat dibutuhkan panty-liner herbal sebagai plester luka di benjolan Sausan, bagi yang ingin berinfak bisa meghubungi no telp diatas.

 

baca juga:

Semangat Sembuh untuk Sausan (1)

Menghargai Kejujuran Anak


“Kamu sudah minum susunya?”, tanya seorang ibu kepada anaknya

“sudah Ma?”, jawab si anak

“yang bener?”, tanya si ibu lagi meragukan jawaban anaknya

“bener sudah”, jawab si anak

“hmh..??”, ragu ibu mulai mengganggu anak

“sudah!!”, si anak pun menjawab dengan kesal

***

“Kamu mencuri uang Mama ya!!!!!”, bentak seorang ibu kepada anak laki-lakinya.

“nggak Ma”, jawab si anak tenang

“aaaaaah, jangan bohong deh!! Mama tau, cuma kamu yang ada disini dari tadi, emang tu duit mau diambil tikus!!!!” bentak si ibu lagi, lebih keras dari bentakan sebelumnya

“ENGGAK! BENER, ENGGAK!”, sahut si anak laki-laki dengan keras menyaingi bentakan ibunya.

“Udah ngaku aja, emang mau jadi maling ya!! emang Mama pernah ngajarin kamu untuk nyuri??!! HAH!!! DASAR KURANG AJAR!!”, lagi-lagi si ibu membentak, tak percaya sedikit pun dengan tuturan sang anak.

Selanjutnya terdengar isakan tangis si anak, awalnya pelan lama-lama terdengar jelas isakannya. Ia berkali-kali menjawab bahwa bukan ia yang mencuri uang tersebut, tapi berkali-kali pula ia disambut dengan bentakan dari sang ibu. Terdengar suara omelan si ibu tak berhenti walau sang anak sudah tersedu-sedu. Walau tak melihat kejadiannya, terbayang si anak duduk menggigil ketakutan di sudut ruang dengan sesenggukan mempertahankan jawabannya.

***

Dua contoh diatas hanya sedikit kasus dari “tidak menghargai kejujuran”. Contoh yang pertama kelihatannya sederhana dan menurut logika orang dewasa tentu tak menimbulkan trauma kepada anak. Padahal anak sangat mengingat pengalaman tersebut dengan baik karena anak 90% belajar melalui hal yang dikatakan dan dialaminya.

Kasus kedua lebih lagi, secara terang-terangan si ibu menyalahkan anaknya untuk hal yang belum pasti ia lakukan. Menuduh termasuk perbuatan yang menyebabkan trauma pada anak,  tidak ada bedanya dengan bullying.

Saya suka heran, apa susahnya menghargai jawaban anak? apalagi kalau kita belum tau pasti mengenai tuduhan kita. Hargailah kejujuran mereka, jangan memaksa mereka untuk berbohong demi membuat kita diam.  Apa susahnya mendengar penjelasan mereka dan menerima dengan lapang jika terbukti bukan dia yang bersalah. Menuduh memang lebih mudah ketimbang ribet-ribet mencari tau terlebih dahulu tentang kebenaran hal yang ingin kita tanyakan. Tapi akibat dari tuduhan tak beralasan tersebut akan terbawa dalam memori anak sepanjang hidupnya.

Maka jangan salahkan ketika seorang anak yang terbiasa mendengar tuduhan dan tak dihargai kejujurannya kelak ketika ia beranjak dewasa akan lebih senang mengutarakan kebohongan. Karena ia tau, orang tua lebih puas dan tenang dengan jawaban bohongnya, bukan sebaliknya dengan kejujuran mereka.

***

“De, kamu masih suka main sama si A ya.. kan mama udah bilang jangan bergaul sama dia, dia itu orangnya bla bla bla…”

“Enggak..”

“Oh yaudah, sukur deh Mama lega dengernya. Soalnya si A itu bla bla bla…”

*si anak bakal cengar-cengir kayaknya karena berhasil bikin mamanya diam nggak ngebentak-bentak. Padahal selama si ibu ngedumel, si anak lagi sms-an sama si A yang lagi diributin tadi..

 

Semangat Sembuh untuk Sausan


Mohon doa dan dukungan moril untuk yang terbaik bagi anak saya yang 2 tahun lalu divonis mengidap kanker mata (retinoblastoma). Sudah satu tahun belakangan ini retina semakin membesar sehingga keluar dari kelopak matanya. Hingga kini pembesaran sudah sebesar hampir sebesar setengah dari ukuran kepalanya hingga sudah menutupi sebagian besar hidung dan mulut sehingga sulit untuk bernafas dan makan / minum dan bicara. Sengaja sejak dua tahun lalu kami tidak menempuh jalur medis karena jalur medis yang ditawarkan dokter satu–satunya adalah operasi pengangkatan bola mata dan menurut dokter itu pun bukan solusi final, sehingga pasca operasi masih ada treatment lanjutan (kemotherapy, radiotherapy, penyinaran, dan radiasi therapy) yang saya sudah dapat perkirakan akan menyiksa dan menyengsarakan anak saya yang waktu itu usianya belum genap 2 tahun.

Akhirnya kami menempuh jalur herbal dan kami sangat percaya dan mengimani apa yang Allah firmankan dalam surat An Nahl mengenai kemanjuran obat yang Allah sediakan dari perut lebah yaitu madu. Kami pun sangat percaya dan mengimani sabda Rasulullah salallahu’alaihi wassalam mengenai kemanjuran habbattussauda yang bisa mengobati segala macam penyakit kecuali maut. Kami datang kepada beberapa herbalis yang biasa membuat ramuan thibun nabawi berupa madu + minyak habbatussauda + minyak zaitun + ramuan beberapa herbal lokal anti (obat) kanker. Sampai saat ini anak saya masih mengkonsumsinya meskipun tidak sebanyak dulu karena kebosanan seorang anak kecil yang terus minum ramuan. Faktor lain karena anak saya juga mengkonsumsi herbal – herbal lain dari beberapa MLM seperti Tahitian Noni dari USA, Tiansi dari China, Lutein + Izumi dari Jepang, dan beberapa herbal dari beberapa MLM lain yang tidak bisa saya sebutkan semua disini. Tapi qadarallah sampai detik ini Allah belum memberi kesembuhan untuk anak saya.

Kembali kami coba menempuh jalur medis dengan menghubungi beberapa dokter antara lain Dokter Liu dari RS Guangzou di China. Beliau sudah angkat tangan tidak bersedia merujuk anak saya untuk dibawa ke Guangzou China dengan pertimbangan kondisi fisik anak saya yang sangat kurus dan umurnya yang masih balita. Kami tetap tidak putus asa, kami dapat informasi dari Solo Jateng bahwa di RS Yarsi ada dokter yang mampu membuat ramuan gas bersuhu sngat rendah yang bisa membekukan sel kanker dan mematikannya serta merta membuang sel tersebut keluar dari tubuh. Namun setelah saya hubungi beliau juga angkat tangan karena ramuan gasnya baru bisa untuk kanker paru–paru dan hanya untuk orang dewasa. Akhirnya Allah mempertemukan saya dengan spesialis mata dari RSCM. Dengan saya kirim foto anak saya dan saya bertemu beliau membicrakan permasalahan anak kami, kesimpulan yang bisa saya peroleh dari beliau bahwa kalangan medis sudah kebingungan harus mulai dari mana mengatasi/mengboati penyakit kanker/tumor yang diderita anak saya karena menurutnya besar kemungkinan sudah terjadi terjadi metastasis atau penyebaran melihat kondisi anak saya yang hampir bisa dibilang kurus kering tinggal tulang, pipi kiri depan telinga yang ikut membesar (kemungkinan kelenjar getah beningnya juga sudah terkena kanker. Menurutnya dokter pun tidak berani mengambli langkah operasi karena sudah terlalu besar dan kemungkinan besar sudah menyebar dampai ke tulang, sehingga alternatifnya terlebih dahulu akan dilakukan kemo therapi, radiasi, dan penyinaran untuk memperkecil perkembangbiakan sel kankernya. Itu pun kalau hasil pemeriksaan menunjukkan anak kami kuat untuk diberikan treatment beberapa thrapi tersebut.

Kesimpulan terakhir yang bisa saya peroleh dari pernyataan dokter tersebut bahwa anak saya tinggal menunggu waktu sambil terus ikhtiar dan berdoa serta pantang putus asa dari rahmat Allah. Oleh karena itu kami mohon dukungan moril, doa , dan barangkali ada informasi yang bisa kami lakukan untuk mencari yang terbaik untuk anak saya, dimana hanya Allah lah yang bisa menjadi sumber solusi untuk yang terbaik bagi anak saya, selain memang kami harus tetap terus berdoa, ikhtiar, dan tawakal / sabar sebagai kewajiban seorang hamba yang sedang ditimpa musibah. Sekarang anak saya usianya hampir genap 4 tahun insya Allah pada tanggal 5 Januari 2011.

Sebagai gambaran singkat, kondisi badan hampir kurus kering tinggal keliatan tulangnya saja, pembesaran retina sudah sedemikian rupa hampir sebesar setengah dari ukuran kepalanya, sebagian besar hidung sudah tertutup sehingga sulit bernafas, sebagian mulut / bibir sudah terdesak oleh membesarnya retina yang keluar sehingga sulit untuk makan, minum, dan bicara. Aktifitas sehari–hari 95% tiduran walau kadang sambil bermain dan ngobrol dengan kakak dan ayah / ibunya. Duduk pun tidak kuat bertahan lama. Demikian mohon maaf jika e-mail kami terlalu panjang.

Jazaakallahu khiron,

Arief

***

Demikianlah isi email yang saya baca di milis KPMI. Saat saya baca, respon yang masuk pun sudah banyak, ada yang memberikan info tentang obat-obat alternatif, ada juga yang mendoakan bahkan langsung mengajak kawan-kawan KPMI untuk urun sumbang untuk kepentingan pengobatan ananda Sausan. Saya sendiri memutuskan untuk menjenguk langsung, sambil berdoa mudah-mudahan rumahnya mudah dijangkau. Alhamdulillah, niatan saya disambut ibu Rini dari Div. Diklat KPMI, ternyata rumah Pak Arif di Limus Pratama tak seberapa jauh dari rumah saya di Kranggan. Dari hasil sms-an, saya dan Bu Rini akhirnya janjian untuk jalan bareng, kamipun bertemu sekitar pukul 10.00 wib di depan plasa cibubur.

Pukul 10.00 wib tepat kami jalan menuju kediaman Pak Arif. Di mobil kami berbincang-bincang mengenai kabar kondisi terakhir ananda Sausan. Terus Berbeda dengan Bu Rini yang tenang, saya agak sedikit cemas  karena terus terang saya belum pernah melihat foto Sausan dan kondisinya,  jadi saya sangat takut kalau-kalau nanti saya tak tega melihatnya. Alhamdulillah perjalanan lancar, kurang lebih setengah jam kami sudah sampai di kediaman Pak Arif yang saat itu sedang tidak dirumah karena sedang mengambil obat. Kamipun disambut istri tercinta dan langsung mengantarkan kami pada anaknya yang terbaring di kursi tamu. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Saat itu hanya kata-kata tersebut yang bisa terlontar dari hati saya. Ananda Sausan terlihat tidur dengan tenang, dengan benjolan yang diperban menutupi seluruh wajahnya. Bahkan hidungpun tak terlihat. Mulut hanya secuil yang bisa terlihat, menyebabkan ia sulit untuk bicara dan makan.

Kami pun berbincang dengan ibunda Sausan tentang berbagai cara yang telah ditempuh untuk pengobatan. Kendala yang banyak dialami ternyata penolakan dokter untuk menangani karena usia Sausan yang masih balita. Wallahua’lam bishshowwab.

Ditengah perbincangan, Sausan terbangun. Kemudian berkata “lapar.. lapar..”

Allah, saya tak tega membayangkan ia harus melulu minum susu untuk mengisi perutnya. Ia pun tak mau lagi minum susu jika tak dibujuk oleh sang Bunda. Menurutnya, Sausan adalah anak yang aktif dan cerdas. Ia hanya bermasalah dengan matanya, sedangkan badannya sehat-sehat saja.

“nafsu makannya bagus, lebih bagus dari kakaknya. Benjolan ini tumbuh cepat dalam 3 hari terakhir, jadi mendorong gigi dan mulutnya sehingga susah mengunyah”, tutur Bunda Sausan

Hal ini membuat keluarga mereka cukup shok dan stress, bingung menghadapi keadaan tersebut. Akhirnya kami pun mengobrol tentang berbagai kemungkinan pengobatan yang bisa dilakukan.

Tak lama Pak Arif telah datang dengan informasi baru tentang obat yang didapatnya. Obat ini didapat dari seorang pensiunan apoteker dari Depkes, yang merupakan keluarga dari Pak Ghozi-salah satu anggota milis KPMI-. Pak Arif menceritakan tentang bagaimana obat kanker ini akan bekerja, yang katanya dalam 2-3 jam paling tidak bisa melemaskan benjolan yang ada sehingga Sausan bisa menggerakkan mulutnya untuk mengunyah makanan. Pak Arif juga menceritakan saran-saran  yang ia dapat mengenai penangan medis untuk pasien kanker. Mendengar beberapa masukan, Pak Arif yang pada awalnya ingin memasukkan anaknya ke rumah sakit jadi berubah pikiran dan memutuskan untuk mencoba obat kanker tersebut. Semoga bisa membantu Sausan meringankan penyakitnya.

Kami pun permisi pulang, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, juga agar Sausan bisa segera mendapatkan pengobatan dari obat yang dibawa sang ayah.

Cepat sembuh Sausan sayang..

*besok adalah ulang tahun Sausan yang ke-4, semoga ada keajaiban untuknya..

foto-foto ananda Sausan:

3 hari sebelum hari ini

kondisi hari ini

benjolan yang menutupi hampir seluruh muka

kelenjar getah bening yang ikut membengkak

sausan bersama bunda

 

 

 

 

 

 

 

 

baca juga:

Semangat Sembuh untuk Sausan (2)

 

 

 

Arisan Ibu-Anak


Arisan menurut artikata.com adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan dl sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.
Biasanya yang gemar ikut arisan adalah wanita, baik wanita karir maupun ibu rumah tangga. Arisan dari dulu sudah mendarah daging dengan keluarga Indonesia, bahkan dulu waktu saya sekolah dasar sempat anak-anak di kelas saya juga bikin arisan, bukan dengan uang tapi dengan permen atau coklat. Disebutnya arisan permen dan dikocok seminggu sekali. Jadi tiap minggu ada saja yang jadi juragan permen di kelas. Saya tidak ikutan karena saya dulu tahunya arisan hanya untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak.
Semakin dewasa, saya mulai ikut-ikutan main arisan, dan mulai menikmati “dapet duit arisan” kemudian beli sesuatu dari uang tersebut. Buat saya ini hanya cara paksa untuk menabung.
Sekarang saya pun ikut arisan ibu-ibu di RT saya, yang tiap minggu ditagih uangnya kerumah dan diundi di rumah yang kedapatan arisan. Jadi setiap minggu ada tukang tagih yang datang kerumah dengan password “mau nagih arisan”.
Ternyata, kegiatan arisan ini menjadi perhatian menarik untuk si kecil Rayyan. Mungkin pikirnya enak banget orang ini datang kerumah cuma bilang minta uang arisan kemudian pergi. Dikiranya uang itu untuk orang tersebut karena dia tak pernah tau tentang pembagian arisan. Dan pagi ini dia meminta uang-uang receh yang saya punya, bukan untuk jajan. “untuk arisan”, katanya. Kemudian ketika datang kakeknya kerumah, ia pun meminta uang arisan dari kakek. Datang lagi omnya, dimintanya lagi. Disimpannya di dompet birunya kemudian dipamerkan pada saya “ini uang arisan Rayyan, nanti untuk beli sepeda.”
saya bilang kalau begitu namanya menabung bukan arisan.
Tak berapa lama datang omnya lagi, ditagihnya pula uang arisan. Ketika saya jelaskan “Rayyan, kalau arisan harus dicatat nama-namanya, kemudian nanti uangnya dikembalikan ke orangnya lagi” ia hanya bilang “yaudah, umma yang catat”. Hufth, bagaimana menjelaskan ini.
Akhirnya, daripada ribut lebih baik saya ajak dia main arisan. Jadi setiap hari saya dan dia akan mengumpulkan uang sebesar Rp. 5000,- dan dikocok seminggu sekali. Uangnya boleh untuk ditabung lagi ke bank atau untuk beli sesuatu yang dia inginkan. Disarankan membeli buku bukan mainan. Dia setuju dan arisan pun dimulai.
Mari kita lihat perkembangan arisan ibu-anak ini. Jika berhasil mungkin bisa menjadi salah satu tip melatih anak menabung.

Mengajarkan Anak Membuat Resolusi


Awal tahun bagi banyak orang menjadi titik balik untuk sebuah perubahan. Perubahan menjadi lebih baik tentunya, menjadi baru dalam segala hal. Istilah kerennya “resolusi”.  Begitu juga dengan saya, bagi saya tahun baru berarti merangkai mimpi baru dan mewujudkannya.

Menurut pengarahan dari mbah Google, resolusi ialah ketetapan hati. Itu adalah kebulatan tekat untuk mengambil sikap, melakukan tindakan, serta menunjukkan perilaku baru yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Lazimnya yang baru ini lebih baik daripada yang dulu.

Ada banyak orang yang yakin dengan keberhasilan tehnik “membuat resolusi” ini, meski banyak juga yang tidak. Menurut saya, resolusi adalah salah satu cara menggapai dan mewujudkan visi. Resolusi dibuat untuk lebih mengarahkan hidup kita paling tidak setahun kedepan. Pengusaha bisa membuat target omset dan profit, karyawan membuat target kinerja dan penghasilan yang kira-kira bisa ia dapat, orang tua membuat target perkembangan keluarga terutama anak-anak. Lalu anak-anak? Pernahkah kita mengajarkan mereka membuat resolusi? Pernahkah kita bertanya “nak, adakah mimpi yang ingin kau capai di tahun ini?”. Untuk anak usia Sekolah Menengah, resolusi bisa digunakan sebagai target pencapaian hasil belajarnya. Mereka akan lebih mudah diberi pemahaman tentang pentingnya mempunyai target dan mencapainya.

Bagaimana membantu anak usia sekolah dasar untuk membuat resolusi? Pertama, beri pertanyaan seperti diatas. Jika ia bingung dengan pertanyaan tersebut, jelaskan dulu tentang apa itu resolusi kemudian bimbing ia merangkai mimpinya. Beri contoh dengan hal yang mudah. “Misalnya ibu ingin sekali tahun ini mengajak anak-anak ibu kemping di alam terbuka”. Pancing dengan kegiatan yang menarik. Tentu selanjutnya ia akan dengan mudah merangkai mimpinya. Bantu anak membuat rencana, agar ia bisa memilah-milah mana yang paling dulu dapat diwujudkan dan mana  yang mungkin agak lama. Beri masukan untuk memasukkan nilai pelajaran yang lebih bagus dalam daftar resolusinya. Jangan lupa bantu juga mewujudkannya.

Jadi, resolusi bukan hanya untuk kita yang sudah dewasa. Anak-anak pun harus mulai dikenalkan dengan hal ini. Dengan bahasa “merangkai mi

mpi”, membuat mereka lebih mudah membuat rencana.

Mari teman, new year, new dreams..

Be New