Menghargai Kejujuran Anak


“Kamu sudah minum susunya?”, tanya seorang ibu kepada anaknya

“sudah Ma?”, jawab si anak

“yang bener?”, tanya si ibu lagi meragukan jawaban anaknya

“bener sudah”, jawab si anak

“hmh..??”, ragu ibu mulai mengganggu anak

“sudah!!”, si anak pun menjawab dengan kesal

***

“Kamu mencuri uang Mama ya!!!!!”, bentak seorang ibu kepada anak laki-lakinya.

“nggak Ma”, jawab si anak tenang

“aaaaaah, jangan bohong deh!! Mama tau, cuma kamu yang ada disini dari tadi, emang tu duit mau diambil tikus!!!!” bentak si ibu lagi, lebih keras dari bentakan sebelumnya

“ENGGAK! BENER, ENGGAK!”, sahut si anak laki-laki dengan keras menyaingi bentakan ibunya.

“Udah ngaku aja, emang mau jadi maling ya!! emang Mama pernah ngajarin kamu untuk nyuri??!! HAH!!! DASAR KURANG AJAR!!”, lagi-lagi si ibu membentak, tak percaya sedikit pun dengan tuturan sang anak.

Selanjutnya terdengar isakan tangis si anak, awalnya pelan lama-lama terdengar jelas isakannya. Ia berkali-kali menjawab bahwa bukan ia yang mencuri uang tersebut, tapi berkali-kali pula ia disambut dengan bentakan dari sang ibu. Terdengar suara omelan si ibu tak berhenti walau sang anak sudah tersedu-sedu. Walau tak melihat kejadiannya, terbayang si anak duduk menggigil ketakutan di sudut ruang dengan sesenggukan mempertahankan jawabannya.

***

Dua contoh diatas hanya sedikit kasus dari “tidak menghargai kejujuran”. Contoh yang pertama kelihatannya sederhana dan menurut logika orang dewasa tentu tak menimbulkan trauma kepada anak. Padahal anak sangat mengingat pengalaman tersebut dengan baik karena anak 90% belajar melalui hal yang dikatakan dan dialaminya.

Kasus kedua lebih lagi, secara terang-terangan si ibu menyalahkan anaknya untuk hal yang belum pasti ia lakukan. Menuduh termasuk perbuatan yang menyebabkan trauma pada anak,  tidak ada bedanya dengan bullying.

Saya suka heran, apa susahnya menghargai jawaban anak? apalagi kalau kita belum tau pasti mengenai tuduhan kita. Hargailah kejujuran mereka, jangan memaksa mereka untuk berbohong demi membuat kita diam.  Apa susahnya mendengar penjelasan mereka dan menerima dengan lapang jika terbukti bukan dia yang bersalah. Menuduh memang lebih mudah ketimbang ribet-ribet mencari tau terlebih dahulu tentang kebenaran hal yang ingin kita tanyakan. Tapi akibat dari tuduhan tak beralasan tersebut akan terbawa dalam memori anak sepanjang hidupnya.

Maka jangan salahkan ketika seorang anak yang terbiasa mendengar tuduhan dan tak dihargai kejujurannya kelak ketika ia beranjak dewasa akan lebih senang mengutarakan kebohongan. Karena ia tau, orang tua lebih puas dan tenang dengan jawaban bohongnya, bukan sebaliknya dengan kejujuran mereka.

***

“De, kamu masih suka main sama si A ya.. kan mama udah bilang jangan bergaul sama dia, dia itu orangnya bla bla bla…”

“Enggak..”

“Oh yaudah, sukur deh Mama lega dengernya. Soalnya si A itu bla bla bla…”

*si anak bakal cengar-cengir kayaknya karena berhasil bikin mamanya diam nggak ngebentak-bentak. Padahal selama si ibu ngedumel, si anak lagi sms-an sama si A yang lagi diributin tadi..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s