Kontemplasi


Ada satu pertanyaan bagus yang pernah ditujukan pada saya. Yaitu apakah saya merasa saat ini lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak langsung menjawabnya, sejenak membayangkan dulu saya seperti apa dan sekarang seperti apa. Jawaban saya waktu itu adalah saya tidak merasa saya yang sekarang lebih baik saya yang dulu. Kok bisa? Penjelasan saya waktu itu, entah karena suasana hati yang sedang bernostalgia dengan masa lalu, adalah karena dulu saya memiliki banyak hal yang bisa saya banggakan. Saya jawab bahwa dari kecil saya terbiasa sibuk dengan banyak kegiatan dan semua hal itu membanggakan banyak orang, termasuk lingkungan sekitar. Dengan bangganya saya bilang sampai-sampai banyak orang tua yang ingin anaknya seperti saya, entah apa parameternya yang menjadikan mereka seperti itu. Tapi memang menyenangkan bukan mendengarnya..

Pembicaraan berakhir sampai disitu. Tapi tidak buat saya.

Pertanyaan itu entah kenapa begitu mengganggu pikiran saya. Jawaban saya menimbulkan pertanyaan baru untuk diri saya, kenapa saya merasa tidak lebih baik dari saya yang dulu sementara pencapaian saya sudah sebegini jauhnya. Untuk apa saya merasa bahwa saya mengalami penurunan kualitas hidup sementara perjalanan hidup saya telah memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga. Bukankah semua itu telah menempa saya menjadi pribadi berkualitas. Kalau boleh saya merubah jawaban saya, saya akan jawab bahwa saya bangga dengan saya di masa lalu dan saya merasa lebih baik dan lebih bangga pada diri saya saat ini.

Apa yang membuat saya tidak berbangga memiliki pribadi yang tangguh dan perkasa bak wonder woman pake motor *ketawa sendiri

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan anak bule lucu bernama Yusuf Ar-Rayyan

Apa yang membuat saya tidak berbangga toh saya mandiri dengan bisnis yang saya bangun sendiri dengan semangat yang tinggi untuk membantu mensejahterakan banyak orang

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan lika-liku hidup yang menempa saya, yang saya yakin semua itulah yang menjadi nilai tambah kualitas hidup saya.

Akhirnya,

Saya tidak punya alasan untuk diri saya tidak berbangga dengan pencapaian saya saat ini.

Belum maksimal iya, tapi tidak untuk menyerah pada nasib. Parameter berubah, jelas, dan semua tidak sama, tidak untuk dibandingkan.

Masa kecil saya begitu menyenangkan, sampai sekarang bahkan saya tidak pernah melupakan saat-saat bermain dengan kawan-kawan, dan kadang masih suka saya ulangi untuk menghidupkan memori itu dan membagi kisahnya dengan anak saya. Seperti bersepeda, renang, bertualang, dll. Menceritakan pengalaman menyenangkan dengan orang lain juga akan membawa aura senang kan..

Masa remaja begitu membanggakan, dengan sederet kegiatan dan prestasi. Nanti pasti akan diceritakan lagi ke Rayyan kalau dia sudah remaja.

Perjalanan hidup saya yang tak biasa mengkarbit saya menjadi dewasa, walau kadang saya merasa belum waktunya. Tapi itulah yang membuat saya bersyukur saat ini. Dengan tempaan-tempaan tersebut menjadikan saya tidak hanya selangkah tapi mungkin seribu lebih maju dari yang lain di usia saya.

Masih banyak alasan saya untuk berbangga dan bersyukur dengan hidup saya saat ini.

“Fabiayyi aalaai Robbikumaa tukadzdzibaaan”

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan

Ampuni aku ya Rabb

***

Satu respons untuk “Kontemplasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s