Family Value – Bagian 2. Suami VS Istri


Sebagaimana takjubnya saya terhadap para istri dengan daya juang tinggi, saya pun takjub melihat para suami yang juga berdaya juang tinggi. Lagi-lagi, keheranan menyertai. Tidak semua laki-laki baik mendapat wanita baik, ternyata.

Kasus 3

Sebut saja T, seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak. T hidup berkecukupan dengan suami yang berprofesi konsultan keuangan di beberapa perusahaan dan dosen di salah satu Universitas ternama milik pemerintah. Saya mengenalnya karena saya menyewa satu ruangan dirumahnya untuk saya jadikan kantor. Saya tidak pernah tertarik dengan urusan rumah tangga orang lain, walaupun akses menuju dalam rumah begitu terbuka, saya selalu menjaga batas privasi. Satu kali, anak bungsu T yang berusia kurang lebih 3 tahun masuk dalam ruang kantor saya. Saya biarkan ia bermain di bawah, asalkan tidak mengganggu. Tak lama si bibi ikut masuk ke ruangan, karena khawatir si anak mengganggu kerja saya diapun mengambil dan membawanya masuk ke dalam rumah.

“Ibu gak ada bi?”, tanya saya sopan

“gak ada, biasa lagi keluar”, jawabnya sambil tersenyum, senyuman yang sedikit aneh buat saya.

Saya tak melanjutkan percakapan, khawatir berujung ghibah alias gossip.

Hari-hari berikutnya, si anak dan si bibi makin sering main di ruangan saya. Untuk ukuran orang cukup, sang anak terlihat lusuh di mata saya. Walaupun secara fisik baik-baik saja. Entah kenapa kesendiriannya mengusik nurani saya.

“ibu gak ada lagi bi?”

“ibu mana pernah ada di rumah. Kalo bapak jalan, gak lama ibu pasti jalan. Ntar pulang sore, sebelum bapak pulang dia sampe rumah.”

Ups..wuuuuuh, stop stop..

Apa daya, kereta udah jalan, gak bisa di stop

“saya suka kasian sama bapak, mbak.”

Saya gak mau nanya kenapa.. berharap dia gak usah cerita macem-macem ke saya. Persepsi atas pengamatan saya selama ini sudah cukup, saya tidak mau tahu terlalu jauh.

Kasus-kasus ini saya ceritakan bukan untuk menjadi bahan ghibah, namun sebagai pembelajaran dan bahan evaluasi diri.

“pagi-pagi bapak bangun si ibu masih tidur, saya yang nyiapin sarapan. Ibu kalo gak kemana-mana bangunnya ntar zuhur. Bangun tidur langsung rapi-rapi trus pergi”

“perginya kemana bi”, glek nanya juga..

“haduh gak jelas mbak, bulan ini aja udah lebih dari 3 kali katanya makan-makan ulang tahun temen. Kalo dandan kayak artis dangdut, wanginya nyenget. Kalo udah pergi ntar pulang sore kadang malem”.

“saya juga kasian sama anak-anak, terutama yang kecil ini kalo ditanya ibunya siapa pasti yang dijawab saya ibunya”, lanjutnya.

Miris.

“padahal saya tau banget bapak baiiiiik banget”, ceritanya menegaskan kebaikan sang majikan

“kalo ngasih uang belanja tiap bulan ke ibu ampun mbak gak ngitung, belum yang buat ibunya sendiri, belum termasuk belanja gas sama beras itu. Tapi sekarang uangnya dikasih ke saya sama bapak. Saya gak enak sama ibu, tapi bapak nitipnya di saya”

Si bibi masih terus bercerita tentang majikannya. Sesekali ia menggoda anak di pangkuannya “dede anak siapa dek?”

“anak bibi”, jawab si anak

Saya ikut tertawa bersama bibi, dalam hati kasihan.

Kasus 4

“istri saya memilih untuk kuliah S3 ke LN”, cerita seorang kawan lama mengenai perceraiannya.

Jleb! Mendadak bingung.

3 tahun berkawan, tidak pernah sedikitpun dia cerita mengenai rumah tangganya. Apalagi saya, tak pernah berniat menanyakannya. Setau saya dia mempunyai istri dan anak. Selebihnya, itu kan rumah tangga orang, gak minat cari tahu.

“oooh..gitu, trus? “, jawab saya.

“yah, dia tetap bisa kuliah mesti saya larang kan.. jadi pergilah dia”, tambahnya

“mmmm..”, takut salah komen

“anak-anak gimana?”, Tanya saya

“baik-baik, mereka tinggal sama bibinya”

Duh, membayangkan anak-anak ditinggal dan dititip di rumah saudara untuk waktu yang lama membuat komentar saya tak terbendung keluar juga.

Tapi yang keluar cuma kalimat “kok bisa ya?”

Meninggalkan kewajiban mendidik anak-anak untuk mengejar pendidikan yang tinggi. Apalagi yang dikejar? Suami mapan, pendidikan sudah cukup menurut saya, lantas anak-anak digadaikan.  Bukankah menjadi ibu, mendidik dan menjaga keluarga adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan.

“enak ya..”, lanjut saya, keceplosan kali ini

“kenapa?”

“dulu saya mengalah tidak kuliah karena nurut suami, apalagi setelah hamil, gak niat kuliah lagi. Pokoknya semua hidup saya didedikasikan untuk mendidik anak. Setiap hari baca buku tentang menjadi ibu, istri yang baik. Belajar sendiri, dari buku, browsing, radio, tv, ah pokoknya semua buat jadi istri dan ibu yang baik.”

“hmm..”, komentarnya singkat

Perempuan mungkin memang dihadapkan dengan lebih banyak dilema. Dilema ketika kesempatan karir dan pendidikan terbuka lebar di depan mata sementara tangan harus tergandeng dengan anak dan suami. Bukankah disitu juga ada jihad kita, para ibu? Ketika memilih melaksanakan kewajiban dibandingkan menunaikan hal lain yang bersifat kesenangan semata.

Ketika menikah, berarti seorang perempuan telah siap untuk ikhlas taat pada suami bukan? Bahkan pernikahan yang “terpaksa” sekalipun, seorang tidak dapat berkutik untuk melawan dan tidak patuh pada suami, karena dosa-dosanya telah dilimpahkan pada suami. Laki-laki adalah imam, perempuan makmumnya. Sudah menjadi kewajiban istri untuk taat dan patuh pada suami. Walaupun seharusnya para suami juga mengevaluasi dirinya untuk perilaku istri yang demikian. Lagi-lagi karena suami adalah imam, dan istri adalah makmum. Tugas dan kewajiban suami untuk membimbing –bahkan menegur– dan mengarahkan istri. Karena suami dan istri seharusnya saling melengkapi, bukan saling bersaing. Mereka adalah kekasih dan sahabat satu sama lain. Orangtua dari anak-anak mereka, yang juga membutuhkan mereka secara lahir dan batin, fisik dan psikis.

Ini baru sekedar opini dan idealism saya. Banyak ayat yang bisa dikutip, nanti saya lanjutkan kembali..

*bersambung..

Family Value – Bagian 1. Istri Vs Suami


Saya selalu takjub, sekaligus heran jika melihat seorang perempuan yang sudah menikah begitu giat bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Apalagi jika statusnya sudah sebagai ibu. Takjub jelas, mengatur waktu dan tenaga untuk satu hal saja tidak mudah, apalagi harus membagi pikiran, waktu dan tenaga sekaligus untuk mengatur rumah tangga dan pekerjaan. Salut luar biasa untuk mereka. Tapi bukan hanya takjub, keheranan juga begitu jelas berkelebat di pikiran saya. Kemana suami mereka? Apakah mereka berdiam diri melihat sang istri begitu disibukkan dengan pekerjaan lain selain mengurus anak dan rumah tangga? Mereka tahu, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau memang tidak mau tahu?

Kasus 1

D, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang super lincah. Sehari-hari bekerja sebagai akuntan di perusahaan nasional, dengan jarak tempuh rumah-kantor sekitar 2 jam dan office hour yang 8-5. Selain bekerja, ia juga punya beberapa usaha sampingan yang dijalankan online dan offline. Dengan bekerja saja ia sudah banyak kehilangan waktu dengan anak dan rumahnya, karena perjalanan setiap hari membuat ia harus rela melihat anak-anak di pagi hari sebelum kerja dan malam hari sebelum sang anak tidur. Ditambah usaha sampingan yang membuat weekend nya menjadi hari jualan di bazaar-bazaar, ikut seminar ini itu supaya menambah penghasilan. Kalau sudah begini, harus pintar bagi waktu antara main sama anak dan jualan. Biasanya solusinya adalah menggabungkan keduanya, sambil jualan si anak dibawa, selesai jualan langsung cari tempat main. Begitu setiap hari. Itu baru membicarakan pekerjaan, usaha, dan anak. Belum bicara urusan rumah dan suami.

Pertanyaan saya, dimana sang suami?? Karena jarang sekali terlihat suami menemani istri beraktifitas, beda dengan istri yang biasanya malah suka kalau diajak ikut kegiatan suami. Apa yang mereka cari sebenarnya dalam rumah tangga? Kepuasan materi kah?

Tentu saja ini tidak sehat, ada yang tidak beres. Tidak seharusnya demikian. Bukankah dulu mereka menikah dengan cinta? Harusnya mereka menjalani rumah tangga pun dengan cinta, bukan sendiri-sendiri begini.

Suami, bagaimanapun adalah pengayom, pelindung. Tanggung jawab keluarga ada di pundaknya. Bukan di pundak istri. Bagaimana tidak geram melihat istri lebih giat bekerja dan mencari nafkah ketimbang suami?

Saya tak pernah berani mengungkit  bahkan bertanya tentang si suami, khawatir ikut campur dan menambah kepenatan yang sudah jelas-jelas terlihat di wajahnya. Jika pun saya akhirnya tahu adalah karena dia akhirnya menceritakan pada saya dengan sendirinya.

8 tahun membangun rumah tangga, tak terlihat kesungguhannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“terbiasa dengan kemapanan mungkin dulunya, jadi begitu punya keluarga sendiri dia lupa kalau udah gak bisa lagi minta-minta ke orangtua. Dia itu contoh anak yang gak diajarin kalo hidup itu ada kalanya senang ada kalanya susah, makanya daya juangnya rendah”, ungkapnya

“rumah aja ini gue yang bayar cicilannya tiap bulan, buat makan setiap hari ibunya ngirim kerumah. Gue berangkat kerja dia masih tidur, gue pulang kantor dia gak dirumah. Iya kalo kerja, gak jelas kemana”, tambahnya lagi, kali ini berapi-api seolah keluar semua lahar yang selama ini terendap. Saya hanya mendengarkan, bukankah itu yang dia butuhkan saat ini?

gue capek..”

Parrr!!! Saya cukup terhenyak, walaupun sebenarnya sudah bisa diprediksi ujung pembicaraan akan seperti ini. Kalimat ini biasanya menjadi anti klimaks dari setiap curhatan perempuan. Karena perempuan sangat tahan capek, maka kalau sampai kalimat ini terucap biasanya akan diikuti dengan keputusan tindakan yang diambil selanjutnya. Saya agak deg-degan, berharap jangan dibahas sekarang.

“kalo gak ngeliat anak-anak mungkin gue udah pisah kali..”

“dipikirin dulu mbak, gak semudah itu menjadi single fighter”, saran saya singkat.

“udah lama gue fight sendirian, dia mana? Gak pernah ada buat gue, anak-anak”

Hufth..

***

Lama tidak bertemu, beberapa hari lalu kami bersua. Dan ia telah 2 tahun berpisah dengan suaminya. Saya sedih, melihat satu lagi perempuan harus menjalani kehidupannya sendiri.

Kasus 2

“Bu, saya mau curhat donk..”, sapa seorang perempuan melalui pesan singkat. Dia pemilik laundry langganan saya. Usianya sekitar 3-4 tahun di bawah saya, masih muda.

“iya, ada apa?”, jawab saya. Sedikit heran juga kenapa saya yang jadi tempat curhatnya. Padahal saya gak pasang tanda ‘terima curhat’ di jidat.

“saya capek bu”

“capek kenapa?”

“sama suami, kayaknya gak ada perubahan, pengen pisah aja rasanya”

“kenapa memang sama suami? Bukannya baik dia?”, pancing saya.

gak ada perubahan bu, dari saya nikah kayaknya yang berubah cuma jumlah anak aja. Sekarang aja saya lagi hamil lagi bu”, tulisnya.

Saya geleng-geleng membacanya. Hamil lagi? Anaknya tiga orang berentet kecil-kecil, masih ada bayi digendong-gendong, sekarang hamil lagi. Hufth..

“trus..”

“iya apalagi keluarga saya sama keluarga dia juga kurang cocok bu..”, dan mengalirlah cerita rumah tangga. Saya hanya menjadi pendengar (lebih tepat pembaca) yang baik.

Mereka memiliki usaha laundry kiloan di dekat rumah saya, setiap seminggu dua kali datang kerumah untuk antar jemput cucian pakai motor lengkap dengan tiga bocah ikut nangkring diatasnya. Kadang cucian yang bertumpuk jadi kursi si kecil. Buat saya itu indah, melihat kebersamaan mereka menjalani tiap hari bersama. Agak sedikit heran ketika curhatan itu datang. Istri yang kecewa melihat suaminya hanya bisa menjadi pengantar dan penjemput cucian, itupun hanya disambi antar jemput sang istri dari kios laundry. Sedangkan istri setiap hari harus mengatur arus cucian–sambil jaga anak–. Walaupun dibantu karyawan, tetap saja membuatnya geram melihat suami tidak bisa melakukan lebih dari dia yang seorang perempuan.

“jadi janda kayaknya keren bu”, lanjutnya

“hush, istighfar..”

Astaghfirullah, sampai semudah itu mengucap keinginan untuk menjanda, dikarenakan ia merasa mampu hidup sendiri tanpa suami.

*bersambung..