Family Value – Bagian 1. Istri Vs Suami


Saya selalu takjub, sekaligus heran jika melihat seorang perempuan yang sudah menikah begitu giat bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Apalagi jika statusnya sudah sebagai ibu. Takjub jelas, mengatur waktu dan tenaga untuk satu hal saja tidak mudah, apalagi harus membagi pikiran, waktu dan tenaga sekaligus untuk mengatur rumah tangga dan pekerjaan. Salut luar biasa untuk mereka. Tapi bukan hanya takjub, keheranan juga begitu jelas berkelebat di pikiran saya. Kemana suami mereka? Apakah mereka berdiam diri melihat sang istri begitu disibukkan dengan pekerjaan lain selain mengurus anak dan rumah tangga? Mereka tahu, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau memang tidak mau tahu?

Kasus 1

D, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang super lincah. Sehari-hari bekerja sebagai akuntan di perusahaan nasional, dengan jarak tempuh rumah-kantor sekitar 2 jam dan office hour yang 8-5. Selain bekerja, ia juga punya beberapa usaha sampingan yang dijalankan online dan offline. Dengan bekerja saja ia sudah banyak kehilangan waktu dengan anak dan rumahnya, karena perjalanan setiap hari membuat ia harus rela melihat anak-anak di pagi hari sebelum kerja dan malam hari sebelum sang anak tidur. Ditambah usaha sampingan yang membuat weekend nya menjadi hari jualan di bazaar-bazaar, ikut seminar ini itu supaya menambah penghasilan. Kalau sudah begini, harus pintar bagi waktu antara main sama anak dan jualan. Biasanya solusinya adalah menggabungkan keduanya, sambil jualan si anak dibawa, selesai jualan langsung cari tempat main. Begitu setiap hari. Itu baru membicarakan pekerjaan, usaha, dan anak. Belum bicara urusan rumah dan suami.

Pertanyaan saya, dimana sang suami?? Karena jarang sekali terlihat suami menemani istri beraktifitas, beda dengan istri yang biasanya malah suka kalau diajak ikut kegiatan suami. Apa yang mereka cari sebenarnya dalam rumah tangga? Kepuasan materi kah?

Tentu saja ini tidak sehat, ada yang tidak beres. Tidak seharusnya demikian. Bukankah dulu mereka menikah dengan cinta? Harusnya mereka menjalani rumah tangga pun dengan cinta, bukan sendiri-sendiri begini.

Suami, bagaimanapun adalah pengayom, pelindung. Tanggung jawab keluarga ada di pundaknya. Bukan di pundak istri. Bagaimana tidak geram melihat istri lebih giat bekerja dan mencari nafkah ketimbang suami?

Saya tak pernah berani mengungkit  bahkan bertanya tentang si suami, khawatir ikut campur dan menambah kepenatan yang sudah jelas-jelas terlihat di wajahnya. Jika pun saya akhirnya tahu adalah karena dia akhirnya menceritakan pada saya dengan sendirinya.

8 tahun membangun rumah tangga, tak terlihat kesungguhannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“terbiasa dengan kemapanan mungkin dulunya, jadi begitu punya keluarga sendiri dia lupa kalau udah gak bisa lagi minta-minta ke orangtua. Dia itu contoh anak yang gak diajarin kalo hidup itu ada kalanya senang ada kalanya susah, makanya daya juangnya rendah”, ungkapnya

“rumah aja ini gue yang bayar cicilannya tiap bulan, buat makan setiap hari ibunya ngirim kerumah. Gue berangkat kerja dia masih tidur, gue pulang kantor dia gak dirumah. Iya kalo kerja, gak jelas kemana”, tambahnya lagi, kali ini berapi-api seolah keluar semua lahar yang selama ini terendap. Saya hanya mendengarkan, bukankah itu yang dia butuhkan saat ini?

gue capek..”

Parrr!!! Saya cukup terhenyak, walaupun sebenarnya sudah bisa diprediksi ujung pembicaraan akan seperti ini. Kalimat ini biasanya menjadi anti klimaks dari setiap curhatan perempuan. Karena perempuan sangat tahan capek, maka kalau sampai kalimat ini terucap biasanya akan diikuti dengan keputusan tindakan yang diambil selanjutnya. Saya agak deg-degan, berharap jangan dibahas sekarang.

“kalo gak ngeliat anak-anak mungkin gue udah pisah kali..”

“dipikirin dulu mbak, gak semudah itu menjadi single fighter”, saran saya singkat.

“udah lama gue fight sendirian, dia mana? Gak pernah ada buat gue, anak-anak”

Hufth..

***

Lama tidak bertemu, beberapa hari lalu kami bersua. Dan ia telah 2 tahun berpisah dengan suaminya. Saya sedih, melihat satu lagi perempuan harus menjalani kehidupannya sendiri.

Kasus 2

“Bu, saya mau curhat donk..”, sapa seorang perempuan melalui pesan singkat. Dia pemilik laundry langganan saya. Usianya sekitar 3-4 tahun di bawah saya, masih muda.

“iya, ada apa?”, jawab saya. Sedikit heran juga kenapa saya yang jadi tempat curhatnya. Padahal saya gak pasang tanda ‘terima curhat’ di jidat.

“saya capek bu”

“capek kenapa?”

“sama suami, kayaknya gak ada perubahan, pengen pisah aja rasanya”

“kenapa memang sama suami? Bukannya baik dia?”, pancing saya.

gak ada perubahan bu, dari saya nikah kayaknya yang berubah cuma jumlah anak aja. Sekarang aja saya lagi hamil lagi bu”, tulisnya.

Saya geleng-geleng membacanya. Hamil lagi? Anaknya tiga orang berentet kecil-kecil, masih ada bayi digendong-gendong, sekarang hamil lagi. Hufth..

“trus..”

“iya apalagi keluarga saya sama keluarga dia juga kurang cocok bu..”, dan mengalirlah cerita rumah tangga. Saya hanya menjadi pendengar (lebih tepat pembaca) yang baik.

Mereka memiliki usaha laundry kiloan di dekat rumah saya, setiap seminggu dua kali datang kerumah untuk antar jemput cucian pakai motor lengkap dengan tiga bocah ikut nangkring diatasnya. Kadang cucian yang bertumpuk jadi kursi si kecil. Buat saya itu indah, melihat kebersamaan mereka menjalani tiap hari bersama. Agak sedikit heran ketika curhatan itu datang. Istri yang kecewa melihat suaminya hanya bisa menjadi pengantar dan penjemput cucian, itupun hanya disambi antar jemput sang istri dari kios laundry. Sedangkan istri setiap hari harus mengatur arus cucian–sambil jaga anak–. Walaupun dibantu karyawan, tetap saja membuatnya geram melihat suami tidak bisa melakukan lebih dari dia yang seorang perempuan.

“jadi janda kayaknya keren bu”, lanjutnya

“hush, istighfar..”

Astaghfirullah, sampai semudah itu mengucap keinginan untuk menjanda, dikarenakan ia merasa mampu hidup sendiri tanpa suami.

*bersambung..

Satu respons untuk “Family Value – Bagian 1. Istri Vs Suami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s