Tentang berbagi Inspirasi, Aktualisasi Diri, dan Pemberdayaan Perempuan


Banyak yang tanya ke saya apa tujuan saya mengadakan Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” yang dibuat khusus untuk ibu-ibu rumah tangga seperti saya. Idenya sederhana, tujuannya juga sederhana, namun saya harap dapat memberikan dampak luar biasa khususnya bagi kaum perempuan dan bagi keluarga secara umum.

Apa itu?

  1. Berbagi cerita dan inspirasi

Cerita saya dimulai ketika saya selalu melihat daya juang dan keikhlasan seorang ibu sejak saya kecil, dimana beliau yang tidak punya titel pendidikan tinggi dan juga tidak punya jabatan apapun di perusahaan manapun–selain hanya seorang guru TPA tanpa gaji– berdagang begitu giat siang dan malam tanpa lelah untuk “ngasih jajan” anaknya sekolah. Pagi buta setelah shalat Subuh sudah keluar rumah untuk ambil dagangan berupa masakan matang dari rumah tetangga, kemudian dengan sepedanya mengayuh keliling perumahan dan menjualnya ke dari rumah ke rumah. Keranjang sepeda yang penuh tadi sudah kosong di jam 6 pagi, saat ketiga anaknya harus berangkat sekolah. Ia belikan sarapan untuk anak-anak dan bekal uang jajan sekolah dengan penuh girang. Setelah anak-anak berangkat sekolah, ia bersiap mengajar TPA sampai jam 12. Anak-anak pulang sekolah, ia telah tiba dirumah. Sore hari kembali mengajar TPA sampai maghrib tiba. Tidak cuma masakan yang dijual, apapun yang bisa dijadikan peluang untuk jualan pasti dijualnya. Dari a sampai z, dari baju sampai pulpen dengan karakter lucu, kue putu ayu (yang kuenya saya abisin terus), es sirop.. ah, saya ingat betul. *matarembes

Bertahun-tahun hal itu melintas di depan mata saya. Karena wanita itu adalah ibu saya, inspirasi saya.

Lalu dimana ayah saya?? Ada. Ayah saya seorang PNS dengan gaji yang tidak seramah sekarang, jauh dari cukup. Dan alih-alih ibu saya mengeluh dengan kondisinya, ia malah berdagang kesana-kesini untuk membantu perekonomian keluarga. Dan kami anak-anaknya berhasil sekolah dari hasil jualan itu.

Hal itu begitu berbekas dalam benak saya. Semangatnya mengalir dalam diri saya ketika saya terpuruk dan jatuh. Semangat yang selalu mampu membuat saya bangkit berulang kali. Dengan tidak selalu mengeluh, melainkan berbuat sesuatu untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tidak membuang-buang energi dan air mata hanya untuk meratapi nasib yang menimpa diri. Menyadari bahwa hidup tak selalu seindah dan semudah yang kita bayangkan. Jadi lebih baik berusaha mewujudkan saja bayangan-bayangan indah itu, tanpa mengeluh.

Dan semangat ini yang ingin saya tularkan kepada para perempuan khususnya ibu-ibu agar selalu mampu bangkit dari keterpurukan dan berhenti mengeluhkan keadaan. Karena semangat itu tidak mudah dihadirkan sendiri, maka saya ingin menjadi penyemangat untuk mereka. Dan karena semangat itu seperti iman, yaazid wa yankush, naik dan turun, maka butuh sekali kembali merecharge semangat itu, salah satunya dengan berbagi. Di Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” inilah kita akan berbagi semangat dan inspirasi, untuk senantiasa menyemangati satu sama lain.

  1. Membantu menemukan aktualisasi diri

Aktualisasi diri itu penting, dan banyak bentuknya. Menurut Maslow, tokoh psikologi humanistik yang  dalam risetnya mengatakan bahwa

“self-actualized individuals had a better insight of reality, deeply accepted themselves, others and the world, and also had faced many problems and were known to be impulsive people.”

Yang artinya kurang lebih seperti ini:

“Individu dengan aktualisasi diri yang baik memiliki wawasan yang lebih baik dalam hal menghadapi realitas, sangat menerima diri sendiri, orang lain dan dunia, dan juga telah menghadapi banyak masalah sehingga dikenal sebagai orang yang impulsif”

Individu baru dapat mengalami “puncak pengalamannya” saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, individu yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya

Masih menurut Maslow, kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang didalamnya terdapat 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya. Dalam hirarki kebutuhan, Maslow menempatkan self-actualization needs atau kebutuhan akan aktualisasi diri pada puncak kebutuhan manusia.

Sedangkan saya sendiri melihat pentingnya aktualisasi diri sebagai bentuk rasa syukur dan penerimaan kita akan kehidupan. Untuk itu pada Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” ini saya berharap dapat membantu banyak ibu menemukan aktualisasi dirinya. Walaupun bentuk aktualisasi diri itu banyak, dan kita tidak tahu apakah bisnis adalah salah satu aktualisasi diri yang tepat untuk kita. tapi paling tidak ada upaya untuk menemukannya.

  1. Pemberdayaan perempuan

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” juga adalah salah satu bentuk rasa syukur saya atas pengalaman dan pelajaran kehidupan yang kemudian membentuk saya menjadi pribadi yang seperti sekarang. Saya tidak sempurna, namun saya merasa sempurna ketika mampu memberdayakan potensi orang lain untuk kehidupannya yang lebih baik, terutama kaum perempuan. Disitulah saya mengaktualisasikan diri saya.

Lalu, kenapa berbayar??

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” dibuat berbayar untuk menghargai ilmu dan waktu. Pengalaman ketika satu kelas dibuat gratis maka “rasa menghargai” akan ilmu dan waktu menjadi rendah. Untuk itu diputuskan untuk peserta dipungut biaya. Toh biaya yang dikenakan tidak mahal, dan diperuntukkan untuk memfasilitasi kelas peserta dengan sebaik-baiknya. Sebagian dana tersebut juga akan disalurkan untuk infaq ke Pondok Tahfizh Putri Al-Husna, Gunung Putri.

Jadi begitulah, Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”  menjadi cara untuk berbagi inspirasi, mengaktualisasi diri dan memberdayakan perempuan.

Untuk yang belum daftar, masih ada kursi untuk ikut bergabung di kelas Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”

Semoga bermanfaat.

Event: Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”


Percaya gak kalau semua ibu2 bisa punya usaha? Lho kok bisa?
Karena ibu2 adalah penjual yang handal sekaligus pembeli setia
Karena semua yang ibu2 kerjain bisa menghasilkan duit 😍😍
Iya kaaan???

Nah..
Buat ibu2 yg mau usaha dirumah tp bingung bagaimana mulainya..
Buat ibu2 yg mau punya penghasilan tambahan tp gak mau ganggu urusan rumah..
Wajib ikutan sharing bareng di acara berikut.

Ada kuota 5 org gratis utk ikutan lho
Isinya murni sharing pengalaman dan wawasan

1001-ide-usaha

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”
Bagaimana menemukan usaha yang cocok dijalankan dari rumah

Hari/tgl: Sabtu, 5 Nov 2016
Pukul : 9.00 – 12.00 wib
Tempat: FoodStop Cibubur
Jl. Raya Lapangan Tembak No. 74
Cibubur – Jakarta Timur

Htm: Rp. 50rb
Trf via rekening BCA an. Umi Kamilah
no. Acc 6280429307

Info lebih lanjut:
Icha +6289526092128

 

Ibu-ibu Bisnis, Kenapa Nggak?


Ya..kenapa nggak? kan salah satu pintu rejeki adalah dagang alias bisnis, jadi  boleh donk ibu-ibu buka pintunya sendiri. Tapi gimana??

Pertama, luruskan niat dulu bahwa berbisnis bukan untuk sok mandiri dan menyaingi suami, tapi untuk membantu keluarga dan pemberdayaan diri. Jadi kalau ada yang niatnya udah sombong duluan mau ngalahin atau ngebuktiin ke suaminya kalo dia bisa cari duit sendiri, mundur aja dulu ya bu jangan diterusin bacanya dan renungin lagi.

Tulisan ini saya buat terkait acara Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” khusus untuk emak-emak alias ibu rumah tangga. Kenapa acara ini saya bikin khusus buat para emak? Saking seringnya denger emak-emak pada ngedumel bikin rasa hati gregetan (cieh yang perhatian  sama sesama emak)

“aduh, suami saya mah cuma kerja buruh doang, gaji sedikit pusing boro-boro mau jalan-jalan buat makan sama nyekolahin anak aja udah susah, blablablaa..” atau “pusing ih sama suami gak bisa cari duit lebih apa? Mau makan apa kalo cuma dapet segini tiap bulan? Blablablaaa..” biasanya diikuti dengan kernyitan dahi dan bibir yang nyungging-nyungging mirip nenek-nenek lagi nyirih.

Padahal tanpa disadari keluhan-keluhan itu gak ngasih solusi malah cuma bikin penuaan dini dikarenakan kerutan-kerutan di sekitar dahi dan bibir tiap hari tambah jelas.

Nah, disini saya bantu kasih pencerahan dan penerangan sedikit buat ibu-ibu ya..buat apa ngedumel kalo nggak ngasih solusi. Coba diubah kalimat-kalimat keluhan itu jadi sebuah pertanyaan positif: “bagaimana ya membantu suami yang gajinya pas-pasan?” atau “gimana ya biar bisa punya duit sendiri buat keperluan pribadi tanpa ganggu uang gaji suami yang cuma cukup untuk makan sehari-hari?”

Gimana bu, langsung berubah kan pikirannya dari yang tadinya ngedumel gak jelas jadi mikir berkualitas.

Kalo niat udah lurus, lanjut ke langkah kedua yaitu melihat peluang

Ibu-ibu sekalian sadar gak sih kalo kaum ibu itu ratunya belanja?? Betul kan.. ngaku aja iiih.. coba aja liat ibu-ibu yang sering nganter anaknya sekolah, pasti dari sekolah ada aja temen rumpinya, dan kalo udah gitu pasti ada aja yang dijajanin. Atau ibu-ibu yang jalan ke pasar, dari niatnya cuma 5 belanjaan pulang-pulang jadi 2 gembolan isi 20 barang yang gak diniatin beli. Nah yang baca sambil cengar-cengir pasti ngalamin. Belum lagi ibu-ibu itu adalah kaum yang paling banyak geng nya. Cek aja grup wa atau bbm masing-masing. Grup ibu-ibu wali murid, geng sekolah sd, smp, sma, kuliah, grup ibu-ibu arisan rt, tetangga waktu tinggal disini, tetangga waktu tinggal disitu, grup satu angkot, grup satu kantor, dan masih banyak grup-grup lainnya..

*sebentar saya minum dulu.

Daaaan..dari semua grup itu pasti ada yang jualan. Dan hebatnya, pasti ada yang beli dengan alasan apapun. Pasti itu!! Dan ketika ada yang beli, pasti ada lagi dagangan berikutnya. Bahkan kalo tiba-tiba ada yang gak dagang, pasti ada yang nyariin dan nanyain dagangannya.

Jadi udah mulai cerah belum dari paparan tadi? Bahwasanya, ibu-ibu itu adalah sebenarnya penjual yang handal sekaligus pembeli yang setia. Setia menantikan dagangan berikutnya yang bisa dia beli, walaupun dia gak butuh. Dan faktanya, ibu-ibu pembeli lebih banyak jumlahnya dibandingkan ibu-ibu penjual. Artinya, peluang untuk bisnis masih sangat besar. Dan pangsa pasarnya, yaitu sesama ibu-ibu–yang sangat sangat menjanjikan itu–sudah berseliweran setiap hari di depan mata kita.

Jadi, apa yang kita butuhkan?

Yang kita butuh hanya satu, yaitu: melihat peluang itu. Titik.

Bagaimana caranya??

Akan saya beberkan pengalaman saya di sesi nanti ya.. yang penasaran bagaimana cara melihat peluang itu yuk belajar bareng

1001-ide-usaha