Pengertian, Unsur, dan Bentuk Komunikasi


Komunikasi tentu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan komunikasi kita menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Namun tahukah kalian apa sebenarnya pengertian komunikasi, dan unsur-unsur apa yang harus dipenuhi dalam agar sebuah komunikasi terjadi dengan baik, dan apa saja bentuk dari komunikasi? Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan simak penjelasan berikut.

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another).

Skinner turut beropini tentang komunikasi sebagai suatu perilaku lisan maupun simbolik dimana pelaku berusaha memperoleh efek yang diinginkan. Forsdale berkomentar bahwa pengertian komunikasi adalah jenis proses pembentukan, pemeliharaan serta pengubahan sesuatu dengan tujuan agar sinyal yang telah dikirimkan berkesesuaian dengan aturan.

Pengertian komunikasi terakhir datang dari Gode yang mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan suatu kegiatan untuk membuat sesuatu kemudian ditujukkan kepada orang lain. Agar lebih jelasnya kami akan membahas mengenai apa saja tujuan dan fungsi komunikasi, silahkan simak pembahsannya berikut ini.

UNSUR-UNSUR DALAM KOMUNIKASI

Proses komunikasi memiliki beberapa unsur, yaitu: pengirim pesan (komunikator); penerima pesan (komunikan); saluran/media; pesan itu sendiri; timbal balik terhadap pesan yang diterima. Hal ini sesuai dengan apa yang dibuat oleh David K. Berlo ditahun 1960-an yang membuat formula komunikasi yang dikenal dengan “SMCR”, yaitu

  1. Source (pengirim)
  2. Message (pesan)
  3. Channel (saluran media)
  4. Receiver (penerima)

BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI

Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gestur tubuh, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut dengan komunikasi nonverbal.

Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Saat ini terdapat 10.000 bahasa dan dialek digunakan seluruh manusia di dunia.

Setiap bahasa memiliki aturan-aturan sebagai berikut:

  1. Fonologi yaitu cara bagaimana suara dikombinasikan untuk membentuk sebuah kata
  2. Sintaksis yaitu cara bagaimana kata dikombinasikan hingga membentuk kalimat
  3. Semantik yaitu arti dari sebuah kata
  4. Pragmatis yaitu bagaimana cara bahasa digunakan

Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan non verbal untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis.

Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan seharihari.

Bentuk-bentuk komunikasi non verbal:

  • Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah merupakan jenis komunikasi nonverbal yang paling umum digunakan. Bahkan, tidak jarang kita sudah mengetahui informasi yang akan disampaikan lawan bicara, bahkan  sebelum ia menggunakan kata-kata, hanya dengan melihat ekspresi wajahnya

  • Tatapan Mata

Tatapan mata berperan besar dalam komunikasi nonverbal. Dari cara melihat, menatap, atau bahkan berkedip pun sebenarnya sudah bisa menigirimkan suatu informasi

  • Paralinguistik

Paralinguistik adalah aspek nonverbal dari proses bicara. Contohnya adalah nada bicara, kecepatannya, hingga volume suara kita. Aspek nonverbal inilah yang membantu memberikan konteks pada kata-kata yang diucapkan

  • Penampilan

Cara berbusana, pilihan gaya rambut, hingga warna yang kita kenakan, juga masuk sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Sebab ternyata, penampilan bisa menentukan reaksi, interpretasi, hingga penilaian kita terhadap orang lain. Begitu juga sebaliknya

  • Gestur

Gestur atau gerakan tubuh merupakan salah satu jenis komunikasi nonverbal yang paling mudah dibaca. Contoh komunikasi nonverbal menggunakan gestur adalah menunjuk, melambaikan tangan, maupun memperagakan jumlah angka tertentu

  • Haptik atau sentuhan

Dari sentuhan yang kita terima atau berikan ke orang lain, berbagai informasi bisa tersampaikan. Sentuhan menunjukkan keramahan, ajakan, atau bahkan tanda bahaya

  • Proksemik

Ini mengacu pada jarak dan tempat saat melakukan interaksi. Jarak dan tempat interaksi dilakukan dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona publik, sosial, personal, dan intim. Semakin jauh atau dekat jarak antara kita dengan lawan bicara, maka interaksi yang berlangsung pun akan berbeda

  • Kronemik

Pengaruh waktu saat komunikasi berlangsung. Komunikasi saat sedang luang dengan saat sedang sibuk tentu menimbulkan gaya komunikasi yang berbeda.

  • Artifak

Suatu benda atau objek, serta gambar juga bisa dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi secara nonverbal. Contoh bentuk komunikasi ini adalah saat Anda memasang foto profil atau mengunggah gambar tertentu di sosial media. Foto tersebut telah memberikan informasi kepada yang melihatnya mengenai siapa Anda dan hal-hal yang Anda sukai, misalnya.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian, unsur, dan bentuk-bentuk dalam komunikasi. Semoga bermanfaat..

Salam,

Kak Mila

Personal Development Consultant

Solusi Rumah Bersih Sehat Walaupun Diurus ART


Pernah ngalamin gak sih punya ART tapi standar bersih dan rapihnya beda sama kita si empunya rumah? Yang bangun tidurnya duluan kita dari dia. Yang keliatannya bingung aja sama kerjaan rumah, padahal menurut kita itu kerjaan simpel sehari-hari. Yang kudu dibilangin terus saat nyusun bantal di sofa, bersihin karpet, beresin tempat tidur, dll. Iiih, kok jadi kayak gak punya ART sih, semua jadi kayak masih ngerjain sendiri aja.

Nah, kebetulan lagi ada kompetisi blog #TUMElectroluxBlogCompetition dari The Urban Mama dan Electrolux Indonesia dalam merayakan #Over100YearsElectroluxVacuum, saya mau ikutan dengan berbagi tips untuk mama-mama yang punya masalah sama dengan saya tadi. Yang mau punya rumah bersih dan sehat tapi dikerjakan oleh ART.

  1. Tuliskan list pekerjaan yang harus dikerjakan oleh ART, bedakan pekerjaan yang rutin harian dengan yang mingguan atau bulanan

  1. Ajarkan standar-standar dalam tiap pekerjaan rumahnya. Misal: beresin kamar itu seperti apa yang rapih menurut kita. Apakah bantal harus ditumpuk, atau disejajarkan, letak guling, bed cover, lampu tidur, dll. Semua harus diinfokan kepada ART agar dia paham standar kita.
  2. Berikan evaluasi sampai 3 (tiga) bulan supaya ART benar-benar teratur menjalankan pekerjaannya. Infokan kepada ART kita bahwa masa percobaan selama 3 (tiga) bulan agar dia paham bahwa kalau dia tidak serius dan benar-benar belajar agar sesuai standar kita, maka kita tidak segan untuk mengeluarkannya.

Nah, menurut pengalaman saya, biasanya yang paling susah dikerjakan adalah bagian membersihkan sofa, karpet, kasur, dan kotoran-kotoran yang menempel di langit-langit rumah. Bukan sofa, karpet, dan kasur cuma harus dibereskan saja ya, tapi harus benar-benar dibersihkan. Nah, untuk urusan yang satu ini mama-mama  The Urban Mama sudah tidak perlu bingung lagi karena Electrolux Indonesia dengan pengalamannya #Over100YearsElectroluxVacuum menghadirkan produk-produk vacuum cleaner yang sesuai kebutuhan dan berkualitas.

003

Produk-produk vacuum cleaner dari Electrolux Indonesia mudah digunakan dan mudah dibersihkan, cocok untuk penggunaan pada rumah. Karena kemudahannya, mama juga mudah mengajarkan penggunaan dan perawatannya pada ART.

Mudah-mudahan tips ini membantu ya mam. Jadi mama bisa bekerja dengan tenang dan serahkan pekerjaan rumah tangga pada ART dan Electrolux Indonesia #Over100YearsElectroluxVacuum. Pulang kerja rumah kinclong sofa bersih dan wangi bisa langsung selonjoran nonton tv, karpet-karpet bersih bebas debu, atau masuk kamar kinclong kasur rapi jali lengkap dengan sprei wanginya, mandi tinggal mandi gak pake ngedumel liat lantainya yang udah licin karena jarang disikat, mau makan silahkan tinggal ke meja makan karena makanan hangat sudah tersedia disana.

Salam,

Mila

 

Tentang berbagi Inspirasi, Aktualisasi Diri, dan Pemberdayaan Perempuan


Banyak yang tanya ke saya apa tujuan saya mengadakan Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” yang dibuat khusus untuk ibu-ibu rumah tangga seperti saya. Idenya sederhana, tujuannya juga sederhana, namun saya harap dapat memberikan dampak luar biasa khususnya bagi kaum perempuan dan bagi keluarga secara umum.

Apa itu?

  1. Berbagi cerita dan inspirasi

Cerita saya dimulai ketika saya selalu melihat daya juang dan keikhlasan seorang ibu sejak saya kecil, dimana beliau yang tidak punya titel pendidikan tinggi dan juga tidak punya jabatan apapun di perusahaan manapun–selain hanya seorang guru TPA tanpa gaji– berdagang begitu giat siang dan malam tanpa lelah untuk “ngasih jajan” anaknya sekolah. Pagi buta setelah shalat Subuh sudah keluar rumah untuk ambil dagangan berupa masakan matang dari rumah tetangga, kemudian dengan sepedanya mengayuh keliling perumahan dan menjualnya ke dari rumah ke rumah. Keranjang sepeda yang penuh tadi sudah kosong di jam 6 pagi, saat ketiga anaknya harus berangkat sekolah. Ia belikan sarapan untuk anak-anak dan bekal uang jajan sekolah dengan penuh girang. Setelah anak-anak berangkat sekolah, ia bersiap mengajar TPA sampai jam 12. Anak-anak pulang sekolah, ia telah tiba dirumah. Sore hari kembali mengajar TPA sampai maghrib tiba. Tidak cuma masakan yang dijual, apapun yang bisa dijadikan peluang untuk jualan pasti dijualnya. Dari a sampai z, dari baju sampai pulpen dengan karakter lucu, kue putu ayu (yang kuenya saya abisin terus), es sirop.. ah, saya ingat betul. *matarembes

Bertahun-tahun hal itu melintas di depan mata saya. Karena wanita itu adalah ibu saya, inspirasi saya.

Lalu dimana ayah saya?? Ada. Ayah saya seorang PNS dengan gaji yang tidak seramah sekarang, jauh dari cukup. Dan alih-alih ibu saya mengeluh dengan kondisinya, ia malah berdagang kesana-kesini untuk membantu perekonomian keluarga. Dan kami anak-anaknya berhasil sekolah dari hasil jualan itu.

Hal itu begitu berbekas dalam benak saya. Semangatnya mengalir dalam diri saya ketika saya terpuruk dan jatuh. Semangat yang selalu mampu membuat saya bangkit berulang kali. Dengan tidak selalu mengeluh, melainkan berbuat sesuatu untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tidak membuang-buang energi dan air mata hanya untuk meratapi nasib yang menimpa diri. Menyadari bahwa hidup tak selalu seindah dan semudah yang kita bayangkan. Jadi lebih baik berusaha mewujudkan saja bayangan-bayangan indah itu, tanpa mengeluh.

Dan semangat ini yang ingin saya tularkan kepada para perempuan khususnya ibu-ibu agar selalu mampu bangkit dari keterpurukan dan berhenti mengeluhkan keadaan. Karena semangat itu tidak mudah dihadirkan sendiri, maka saya ingin menjadi penyemangat untuk mereka. Dan karena semangat itu seperti iman, yaazid wa yankush, naik dan turun, maka butuh sekali kembali merecharge semangat itu, salah satunya dengan berbagi. Di Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” inilah kita akan berbagi semangat dan inspirasi, untuk senantiasa menyemangati satu sama lain.

  1. Membantu menemukan aktualisasi diri

Aktualisasi diri itu penting, dan banyak bentuknya. Menurut Maslow, tokoh psikologi humanistik yang  dalam risetnya mengatakan bahwa

“self-actualized individuals had a better insight of reality, deeply accepted themselves, others and the world, and also had faced many problems and were known to be impulsive people.”

Yang artinya kurang lebih seperti ini:

“Individu dengan aktualisasi diri yang baik memiliki wawasan yang lebih baik dalam hal menghadapi realitas, sangat menerima diri sendiri, orang lain dan dunia, dan juga telah menghadapi banyak masalah sehingga dikenal sebagai orang yang impulsif”

Individu baru dapat mengalami “puncak pengalamannya” saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, individu yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya

Masih menurut Maslow, kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang didalamnya terdapat 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya. Dalam hirarki kebutuhan, Maslow menempatkan self-actualization needs atau kebutuhan akan aktualisasi diri pada puncak kebutuhan manusia.

Sedangkan saya sendiri melihat pentingnya aktualisasi diri sebagai bentuk rasa syukur dan penerimaan kita akan kehidupan. Untuk itu pada Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” ini saya berharap dapat membantu banyak ibu menemukan aktualisasi dirinya. Walaupun bentuk aktualisasi diri itu banyak, dan kita tidak tahu apakah bisnis adalah salah satu aktualisasi diri yang tepat untuk kita. tapi paling tidak ada upaya untuk menemukannya.

  1. Pemberdayaan perempuan

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” juga adalah salah satu bentuk rasa syukur saya atas pengalaman dan pelajaran kehidupan yang kemudian membentuk saya menjadi pribadi yang seperti sekarang. Saya tidak sempurna, namun saya merasa sempurna ketika mampu memberdayakan potensi orang lain untuk kehidupannya yang lebih baik, terutama kaum perempuan. Disitulah saya mengaktualisasikan diri saya.

Lalu, kenapa berbayar??

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” dibuat berbayar untuk menghargai ilmu dan waktu. Pengalaman ketika satu kelas dibuat gratis maka “rasa menghargai” akan ilmu dan waktu menjadi rendah. Untuk itu diputuskan untuk peserta dipungut biaya. Toh biaya yang dikenakan tidak mahal, dan diperuntukkan untuk memfasilitasi kelas peserta dengan sebaik-baiknya. Sebagian dana tersebut juga akan disalurkan untuk infaq ke Pondok Tahfizh Putri Al-Husna, Gunung Putri.

Jadi begitulah, Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”  menjadi cara untuk berbagi inspirasi, mengaktualisasi diri dan memberdayakan perempuan.

Untuk yang belum daftar, masih ada kursi untuk ikut bergabung di kelas Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”

Semoga bermanfaat.

Event: Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”


Percaya gak kalau semua ibu2 bisa punya usaha? Lho kok bisa?
Karena ibu2 adalah penjual yang handal sekaligus pembeli setia
Karena semua yang ibu2 kerjain bisa menghasilkan duit 😍😍
Iya kaaan???

Nah..
Buat ibu2 yg mau usaha dirumah tp bingung bagaimana mulainya..
Buat ibu2 yg mau punya penghasilan tambahan tp gak mau ganggu urusan rumah..
Wajib ikutan sharing bareng di acara berikut.

Ada kuota 5 org gratis utk ikutan lho
Isinya murni sharing pengalaman dan wawasan

1001-ide-usaha

Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah”
Bagaimana menemukan usaha yang cocok dijalankan dari rumah

Hari/tgl: Sabtu, 5 Nov 2016
Pukul : 9.00 – 12.00 wib
Tempat: FoodStop Cibubur
Jl. Raya Lapangan Tembak No. 74
Cibubur – Jakarta Timur

Htm: Rp. 50rb
Trf via rekening BCA an. Umi Kamilah
no. Acc 6280429307

Info lebih lanjut:
Icha +6289526092128

 

Ibu-ibu Bisnis, Kenapa Nggak?


Ya..kenapa nggak? kan salah satu pintu rejeki adalah dagang alias bisnis, jadi  boleh donk ibu-ibu buka pintunya sendiri. Tapi gimana??

Pertama, luruskan niat dulu bahwa berbisnis bukan untuk sok mandiri dan menyaingi suami, tapi untuk membantu keluarga dan pemberdayaan diri. Jadi kalau ada yang niatnya udah sombong duluan mau ngalahin atau ngebuktiin ke suaminya kalo dia bisa cari duit sendiri, mundur aja dulu ya bu jangan diterusin bacanya dan renungin lagi.

Tulisan ini saya buat terkait acara Workshop “1001 Ide Usaha Dari Rumah” khusus untuk emak-emak alias ibu rumah tangga. Kenapa acara ini saya bikin khusus buat para emak? Saking seringnya denger emak-emak pada ngedumel bikin rasa hati gregetan (cieh yang perhatian  sama sesama emak)

“aduh, suami saya mah cuma kerja buruh doang, gaji sedikit pusing boro-boro mau jalan-jalan buat makan sama nyekolahin anak aja udah susah, blablablaa..” atau “pusing ih sama suami gak bisa cari duit lebih apa? Mau makan apa kalo cuma dapet segini tiap bulan? Blablablaaa..” biasanya diikuti dengan kernyitan dahi dan bibir yang nyungging-nyungging mirip nenek-nenek lagi nyirih.

Padahal tanpa disadari keluhan-keluhan itu gak ngasih solusi malah cuma bikin penuaan dini dikarenakan kerutan-kerutan di sekitar dahi dan bibir tiap hari tambah jelas.

Nah, disini saya bantu kasih pencerahan dan penerangan sedikit buat ibu-ibu ya..buat apa ngedumel kalo nggak ngasih solusi. Coba diubah kalimat-kalimat keluhan itu jadi sebuah pertanyaan positif: “bagaimana ya membantu suami yang gajinya pas-pasan?” atau “gimana ya biar bisa punya duit sendiri buat keperluan pribadi tanpa ganggu uang gaji suami yang cuma cukup untuk makan sehari-hari?”

Gimana bu, langsung berubah kan pikirannya dari yang tadinya ngedumel gak jelas jadi mikir berkualitas.

Kalo niat udah lurus, lanjut ke langkah kedua yaitu melihat peluang

Ibu-ibu sekalian sadar gak sih kalo kaum ibu itu ratunya belanja?? Betul kan.. ngaku aja iiih.. coba aja liat ibu-ibu yang sering nganter anaknya sekolah, pasti dari sekolah ada aja temen rumpinya, dan kalo udah gitu pasti ada aja yang dijajanin. Atau ibu-ibu yang jalan ke pasar, dari niatnya cuma 5 belanjaan pulang-pulang jadi 2 gembolan isi 20 barang yang gak diniatin beli. Nah yang baca sambil cengar-cengir pasti ngalamin. Belum lagi ibu-ibu itu adalah kaum yang paling banyak geng nya. Cek aja grup wa atau bbm masing-masing. Grup ibu-ibu wali murid, geng sekolah sd, smp, sma, kuliah, grup ibu-ibu arisan rt, tetangga waktu tinggal disini, tetangga waktu tinggal disitu, grup satu angkot, grup satu kantor, dan masih banyak grup-grup lainnya..

*sebentar saya minum dulu.

Daaaan..dari semua grup itu pasti ada yang jualan. Dan hebatnya, pasti ada yang beli dengan alasan apapun. Pasti itu!! Dan ketika ada yang beli, pasti ada lagi dagangan berikutnya. Bahkan kalo tiba-tiba ada yang gak dagang, pasti ada yang nyariin dan nanyain dagangannya.

Jadi udah mulai cerah belum dari paparan tadi? Bahwasanya, ibu-ibu itu adalah sebenarnya penjual yang handal sekaligus pembeli yang setia. Setia menantikan dagangan berikutnya yang bisa dia beli, walaupun dia gak butuh. Dan faktanya, ibu-ibu pembeli lebih banyak jumlahnya dibandingkan ibu-ibu penjual. Artinya, peluang untuk bisnis masih sangat besar. Dan pangsa pasarnya, yaitu sesama ibu-ibu–yang sangat sangat menjanjikan itu–sudah berseliweran setiap hari di depan mata kita.

Jadi, apa yang kita butuhkan?

Yang kita butuh hanya satu, yaitu: melihat peluang itu. Titik.

Bagaimana caranya??

Akan saya beberkan pengalaman saya di sesi nanti ya.. yang penasaran bagaimana cara melihat peluang itu yuk belajar bareng

1001-ide-usaha

Catatan Perjalanan: Camping di Pulau Perak


Sejak kemping di Ranu Kumbolo, kemudian dilanjut kemping di Gunung Salak bulan November 2013 silam, saya sudah tidak pernah lagi bertenda. Disibukkan dengan rutinitas harian di kota yang membosankan. Yang dihadapi setiap hari ya itu itu saja, macet. Kali ini bahkan ditambah banjir. Awal tahun baru 2014, saya sudah menyusun jadwal trip bersama Highland Adventure Indonesia. Trip pertama sebenarnya ke Teluk Kiluan, namun saya tidak ikut karena satu dan lain hal. Trip kedua, saya harus ikut. Kenapa?? Karena kita akan kemping, kali ini bukan di gunung, melainkan di pinggir pantai!

Yup, Highland Adventure Indonesia alias HAI bikin trip kemping di Pulau Perak, Kepulauan Seribu. Sudah satu minggu cuaca Jakarta terang benderang, padahal udah dua bulanan ini kita harap-harap cemas karena hujan mulai membanjiri kota. Dan kita berdoa pada hari keberangkatan nanti matahari tetap bersahabat dengan kita. Paling tidak sampai kita kelar kemping lah..hehe, egois sekalih. Et ternyata sodara-sodara, saya start dari rumah pukul 04.00 wib dan sejam kemudian hujan yang cukup deras turun. Hikhik, mulai cemberut dan membayangkan batalnya kemping. Tapi karena tekat saya cukup bulat untuk trip kali ini, saya pun tetap melanjutkan perjalanan.

Jemput-menjemput pun dimulai. Seperti biasa memang, saya ini jemputannya teman-teman yang mau ikut trip, total semua 14 orang. Yang 2 orang naik kereta, ketemu langsung di Muara Angke, sisanya dibagi dua mobil.

Hujan deras membuat kita semua cuma diam aja, belum memutuskan terus nyebrang atau balik kanan. Mobil terus saja melaju menuju Muara Angke, pake acara salah belok pula. Alhamdulillah, sampai di Muara Angke, volume si hujan terus mengecil, membuat senyum kita makin mengembang. Tapi ternyata peserta yang datang hanya 7 orang. Yang lain mengurungkan niatnya jalan karena khawatir hujan gak berenti. Jadilah hanya 7 orang yang melanjutkan perjalanan.

Kapal sudah menunggu, Miles namanya, kapal ini satu-satunya kapal menuju dermaga Pulau Harapan, dengan jadwal jalan hanya 1x sehari. Kami pun langsung menaiki kapal, menempati ruang bawah supaya bisa tidur. Maklum saja karena perjalanan menuju Pulau Harapan kurang lebih masih 3 jam. Pukul 08.00 kapal pun berangkat, buat yang baru naik kapal tentu aja duduk di atas dek. Hehe, maklum masih norak. Gerimis dan mendung mengiringi perjalanan kami. Angin laut yang kencang membuat saya gak lepas dari si jaket biru. Ombak cukup besar membuat kapal beberapa kali terhempas dengan kencang, kami pun berteriak-teriak seolah sedang bermain wahana Kora-kora di Dufan.

Imagefoto gedung dari dermaga Muara Angke, (seolah-olah) Hongkong

Akhirnya, kami sampai di Dermaga Pulau Harapan, disambut oleh kawan disana yang sudah menyiapkan makan  siang untuk perut-perut lapar kami. Selesai makan kami lanjut berlayar menggunakan kapal kecil menuju Pulau Perak. Namun, kami singgah dulu di Pulau Bulat untuk melaksanakan sholat zuhur.

Image  dermaga Pulau Harapan

Image

ImagePulau Bulat

Selesai sholat kami pun langsung menuju Pulau Perak, pulau kecil dengan airnya yang beniiiing sekali bahkan tanpa perlu snorkling pun, ikan-ikan sudah terlihat berenang dari atas dermaga.

Image

Image

Disini kami tidak langsung snorkling, melainkan membangun tenda dulu. Alhamdulillah matahari bersahabat sekali. Siang itu pun menjadi panas kembali, mendung menghilang, dan senyum kami semakin terkembang. Yihaa!! Empat tenda pun selesai didirikan, perut kenyang, siap snorkling. Kami kembali menaiki kapal dan menuju pulau-pulau di sekitar Pulau Perak. Pulau pertama yaitu Pulau Dolphin, gak tau kenapa namanya pulau Dolphin, lupa nanya juga kita. Secara udah gak sabar mau nyebur kan..

ImageImageImageImage

ImagePulau kedua lupa juga namanya, udah langsung nyebur aja kita.

ImageTerakhir kami mampir di Pulau Gosong, sebenarnya bukan pulau, cuma gundukan pasir putih di tengah laut. Kalau laut pasang, pasti ilang ini pulau. Disini tempat yang sangat cocok untuk menunggu sunset. Sayangnya, matahari tertutup awan jadi kita gak dapet view sunsetnya. Foto-foto aja jadinya, pake gaya wajib kalo di pantai, loncat!!

Image  Image  ImageImage

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 kami pun segera menaiki kapal untuk kembali ke Pulau Perak. Bersiap untuk BBQ nanti malam. Pengalaman kemping yang nikmat sekali buat saya. Lain kali pasti kesini lagi.

Imagepose dulu ah =)

Family Value – Bagian 2. Suami VS Istri


Sebagaimana takjubnya saya terhadap para istri dengan daya juang tinggi, saya pun takjub melihat para suami yang juga berdaya juang tinggi. Lagi-lagi, keheranan menyertai. Tidak semua laki-laki baik mendapat wanita baik, ternyata.

Kasus 3

Sebut saja T, seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak. T hidup berkecukupan dengan suami yang berprofesi konsultan keuangan di beberapa perusahaan dan dosen di salah satu Universitas ternama milik pemerintah. Saya mengenalnya karena saya menyewa satu ruangan dirumahnya untuk saya jadikan kantor. Saya tidak pernah tertarik dengan urusan rumah tangga orang lain, walaupun akses menuju dalam rumah begitu terbuka, saya selalu menjaga batas privasi. Satu kali, anak bungsu T yang berusia kurang lebih 3 tahun masuk dalam ruang kantor saya. Saya biarkan ia bermain di bawah, asalkan tidak mengganggu. Tak lama si bibi ikut masuk ke ruangan, karena khawatir si anak mengganggu kerja saya diapun mengambil dan membawanya masuk ke dalam rumah.

“Ibu gak ada bi?”, tanya saya sopan

“gak ada, biasa lagi keluar”, jawabnya sambil tersenyum, senyuman yang sedikit aneh buat saya.

Saya tak melanjutkan percakapan, khawatir berujung ghibah alias gossip.

Hari-hari berikutnya, si anak dan si bibi makin sering main di ruangan saya. Untuk ukuran orang cukup, sang anak terlihat lusuh di mata saya. Walaupun secara fisik baik-baik saja. Entah kenapa kesendiriannya mengusik nurani saya.

“ibu gak ada lagi bi?”

“ibu mana pernah ada di rumah. Kalo bapak jalan, gak lama ibu pasti jalan. Ntar pulang sore, sebelum bapak pulang dia sampe rumah.”

Ups..wuuuuuh, stop stop..

Apa daya, kereta udah jalan, gak bisa di stop

“saya suka kasian sama bapak, mbak.”

Saya gak mau nanya kenapa.. berharap dia gak usah cerita macem-macem ke saya. Persepsi atas pengamatan saya selama ini sudah cukup, saya tidak mau tahu terlalu jauh.

Kasus-kasus ini saya ceritakan bukan untuk menjadi bahan ghibah, namun sebagai pembelajaran dan bahan evaluasi diri.

“pagi-pagi bapak bangun si ibu masih tidur, saya yang nyiapin sarapan. Ibu kalo gak kemana-mana bangunnya ntar zuhur. Bangun tidur langsung rapi-rapi trus pergi”

“perginya kemana bi”, glek nanya juga..

“haduh gak jelas mbak, bulan ini aja udah lebih dari 3 kali katanya makan-makan ulang tahun temen. Kalo dandan kayak artis dangdut, wanginya nyenget. Kalo udah pergi ntar pulang sore kadang malem”.

“saya juga kasian sama anak-anak, terutama yang kecil ini kalo ditanya ibunya siapa pasti yang dijawab saya ibunya”, lanjutnya.

Miris.

“padahal saya tau banget bapak baiiiiik banget”, ceritanya menegaskan kebaikan sang majikan

“kalo ngasih uang belanja tiap bulan ke ibu ampun mbak gak ngitung, belum yang buat ibunya sendiri, belum termasuk belanja gas sama beras itu. Tapi sekarang uangnya dikasih ke saya sama bapak. Saya gak enak sama ibu, tapi bapak nitipnya di saya”

Si bibi masih terus bercerita tentang majikannya. Sesekali ia menggoda anak di pangkuannya “dede anak siapa dek?”

“anak bibi”, jawab si anak

Saya ikut tertawa bersama bibi, dalam hati kasihan.

Kasus 4

“istri saya memilih untuk kuliah S3 ke LN”, cerita seorang kawan lama mengenai perceraiannya.

Jleb! Mendadak bingung.

3 tahun berkawan, tidak pernah sedikitpun dia cerita mengenai rumah tangganya. Apalagi saya, tak pernah berniat menanyakannya. Setau saya dia mempunyai istri dan anak. Selebihnya, itu kan rumah tangga orang, gak minat cari tahu.

“oooh..gitu, trus? “, jawab saya.

“yah, dia tetap bisa kuliah mesti saya larang kan.. jadi pergilah dia”, tambahnya

“mmmm..”, takut salah komen

“anak-anak gimana?”, Tanya saya

“baik-baik, mereka tinggal sama bibinya”

Duh, membayangkan anak-anak ditinggal dan dititip di rumah saudara untuk waktu yang lama membuat komentar saya tak terbendung keluar juga.

Tapi yang keluar cuma kalimat “kok bisa ya?”

Meninggalkan kewajiban mendidik anak-anak untuk mengejar pendidikan yang tinggi. Apalagi yang dikejar? Suami mapan, pendidikan sudah cukup menurut saya, lantas anak-anak digadaikan.  Bukankah menjadi ibu, mendidik dan menjaga keluarga adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan.

“enak ya..”, lanjut saya, keceplosan kali ini

“kenapa?”

“dulu saya mengalah tidak kuliah karena nurut suami, apalagi setelah hamil, gak niat kuliah lagi. Pokoknya semua hidup saya didedikasikan untuk mendidik anak. Setiap hari baca buku tentang menjadi ibu, istri yang baik. Belajar sendiri, dari buku, browsing, radio, tv, ah pokoknya semua buat jadi istri dan ibu yang baik.”

“hmm..”, komentarnya singkat

Perempuan mungkin memang dihadapkan dengan lebih banyak dilema. Dilema ketika kesempatan karir dan pendidikan terbuka lebar di depan mata sementara tangan harus tergandeng dengan anak dan suami. Bukankah disitu juga ada jihad kita, para ibu? Ketika memilih melaksanakan kewajiban dibandingkan menunaikan hal lain yang bersifat kesenangan semata.

Ketika menikah, berarti seorang perempuan telah siap untuk ikhlas taat pada suami bukan? Bahkan pernikahan yang “terpaksa” sekalipun, seorang tidak dapat berkutik untuk melawan dan tidak patuh pada suami, karena dosa-dosanya telah dilimpahkan pada suami. Laki-laki adalah imam, perempuan makmumnya. Sudah menjadi kewajiban istri untuk taat dan patuh pada suami. Walaupun seharusnya para suami juga mengevaluasi dirinya untuk perilaku istri yang demikian. Lagi-lagi karena suami adalah imam, dan istri adalah makmum. Tugas dan kewajiban suami untuk membimbing –bahkan menegur– dan mengarahkan istri. Karena suami dan istri seharusnya saling melengkapi, bukan saling bersaing. Mereka adalah kekasih dan sahabat satu sama lain. Orangtua dari anak-anak mereka, yang juga membutuhkan mereka secara lahir dan batin, fisik dan psikis.

Ini baru sekedar opini dan idealism saya. Banyak ayat yang bisa dikutip, nanti saya lanjutkan kembali..

*bersambung..

Family Value – Bagian 1. Istri Vs Suami


Saya selalu takjub, sekaligus heran jika melihat seorang perempuan yang sudah menikah begitu giat bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Apalagi jika statusnya sudah sebagai ibu. Takjub jelas, mengatur waktu dan tenaga untuk satu hal saja tidak mudah, apalagi harus membagi pikiran, waktu dan tenaga sekaligus untuk mengatur rumah tangga dan pekerjaan. Salut luar biasa untuk mereka. Tapi bukan hanya takjub, keheranan juga begitu jelas berkelebat di pikiran saya. Kemana suami mereka? Apakah mereka berdiam diri melihat sang istri begitu disibukkan dengan pekerjaan lain selain mengurus anak dan rumah tangga? Mereka tahu, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau memang tidak mau tahu?

Kasus 1

D, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang super lincah. Sehari-hari bekerja sebagai akuntan di perusahaan nasional, dengan jarak tempuh rumah-kantor sekitar 2 jam dan office hour yang 8-5. Selain bekerja, ia juga punya beberapa usaha sampingan yang dijalankan online dan offline. Dengan bekerja saja ia sudah banyak kehilangan waktu dengan anak dan rumahnya, karena perjalanan setiap hari membuat ia harus rela melihat anak-anak di pagi hari sebelum kerja dan malam hari sebelum sang anak tidur. Ditambah usaha sampingan yang membuat weekend nya menjadi hari jualan di bazaar-bazaar, ikut seminar ini itu supaya menambah penghasilan. Kalau sudah begini, harus pintar bagi waktu antara main sama anak dan jualan. Biasanya solusinya adalah menggabungkan keduanya, sambil jualan si anak dibawa, selesai jualan langsung cari tempat main. Begitu setiap hari. Itu baru membicarakan pekerjaan, usaha, dan anak. Belum bicara urusan rumah dan suami.

Pertanyaan saya, dimana sang suami?? Karena jarang sekali terlihat suami menemani istri beraktifitas, beda dengan istri yang biasanya malah suka kalau diajak ikut kegiatan suami. Apa yang mereka cari sebenarnya dalam rumah tangga? Kepuasan materi kah?

Tentu saja ini tidak sehat, ada yang tidak beres. Tidak seharusnya demikian. Bukankah dulu mereka menikah dengan cinta? Harusnya mereka menjalani rumah tangga pun dengan cinta, bukan sendiri-sendiri begini.

Suami, bagaimanapun adalah pengayom, pelindung. Tanggung jawab keluarga ada di pundaknya. Bukan di pundak istri. Bagaimana tidak geram melihat istri lebih giat bekerja dan mencari nafkah ketimbang suami?

Saya tak pernah berani mengungkit  bahkan bertanya tentang si suami, khawatir ikut campur dan menambah kepenatan yang sudah jelas-jelas terlihat di wajahnya. Jika pun saya akhirnya tahu adalah karena dia akhirnya menceritakan pada saya dengan sendirinya.

8 tahun membangun rumah tangga, tak terlihat kesungguhannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“terbiasa dengan kemapanan mungkin dulunya, jadi begitu punya keluarga sendiri dia lupa kalau udah gak bisa lagi minta-minta ke orangtua. Dia itu contoh anak yang gak diajarin kalo hidup itu ada kalanya senang ada kalanya susah, makanya daya juangnya rendah”, ungkapnya

“rumah aja ini gue yang bayar cicilannya tiap bulan, buat makan setiap hari ibunya ngirim kerumah. Gue berangkat kerja dia masih tidur, gue pulang kantor dia gak dirumah. Iya kalo kerja, gak jelas kemana”, tambahnya lagi, kali ini berapi-api seolah keluar semua lahar yang selama ini terendap. Saya hanya mendengarkan, bukankah itu yang dia butuhkan saat ini?

gue capek..”

Parrr!!! Saya cukup terhenyak, walaupun sebenarnya sudah bisa diprediksi ujung pembicaraan akan seperti ini. Kalimat ini biasanya menjadi anti klimaks dari setiap curhatan perempuan. Karena perempuan sangat tahan capek, maka kalau sampai kalimat ini terucap biasanya akan diikuti dengan keputusan tindakan yang diambil selanjutnya. Saya agak deg-degan, berharap jangan dibahas sekarang.

“kalo gak ngeliat anak-anak mungkin gue udah pisah kali..”

“dipikirin dulu mbak, gak semudah itu menjadi single fighter”, saran saya singkat.

“udah lama gue fight sendirian, dia mana? Gak pernah ada buat gue, anak-anak”

Hufth..

***

Lama tidak bertemu, beberapa hari lalu kami bersua. Dan ia telah 2 tahun berpisah dengan suaminya. Saya sedih, melihat satu lagi perempuan harus menjalani kehidupannya sendiri.

Kasus 2

“Bu, saya mau curhat donk..”, sapa seorang perempuan melalui pesan singkat. Dia pemilik laundry langganan saya. Usianya sekitar 3-4 tahun di bawah saya, masih muda.

“iya, ada apa?”, jawab saya. Sedikit heran juga kenapa saya yang jadi tempat curhatnya. Padahal saya gak pasang tanda ‘terima curhat’ di jidat.

“saya capek bu”

“capek kenapa?”

“sama suami, kayaknya gak ada perubahan, pengen pisah aja rasanya”

“kenapa memang sama suami? Bukannya baik dia?”, pancing saya.

gak ada perubahan bu, dari saya nikah kayaknya yang berubah cuma jumlah anak aja. Sekarang aja saya lagi hamil lagi bu”, tulisnya.

Saya geleng-geleng membacanya. Hamil lagi? Anaknya tiga orang berentet kecil-kecil, masih ada bayi digendong-gendong, sekarang hamil lagi. Hufth..

“trus..”

“iya apalagi keluarga saya sama keluarga dia juga kurang cocok bu..”, dan mengalirlah cerita rumah tangga. Saya hanya menjadi pendengar (lebih tepat pembaca) yang baik.

Mereka memiliki usaha laundry kiloan di dekat rumah saya, setiap seminggu dua kali datang kerumah untuk antar jemput cucian pakai motor lengkap dengan tiga bocah ikut nangkring diatasnya. Kadang cucian yang bertumpuk jadi kursi si kecil. Buat saya itu indah, melihat kebersamaan mereka menjalani tiap hari bersama. Agak sedikit heran ketika curhatan itu datang. Istri yang kecewa melihat suaminya hanya bisa menjadi pengantar dan penjemput cucian, itupun hanya disambi antar jemput sang istri dari kios laundry. Sedangkan istri setiap hari harus mengatur arus cucian–sambil jaga anak–. Walaupun dibantu karyawan, tetap saja membuatnya geram melihat suami tidak bisa melakukan lebih dari dia yang seorang perempuan.

“jadi janda kayaknya keren bu”, lanjutnya

“hush, istighfar..”

Astaghfirullah, sampai semudah itu mengucap keinginan untuk menjanda, dikarenakan ia merasa mampu hidup sendiri tanpa suami.

*bersambung..

Like Booster di Fan Page, dibenarkankah??


Sebenarnya ini ganjalan pertanyaan yang sudah agak lama ada di pikiran saya. Belakangan, social media menjadi salah satu media utama dalam pemasaran suatu usaha baik barang maupun jasa. Dari mulai personal page, dibuatlah group, dan sampai akhirnya fan page guna menjembatani komunikasi dengan calon pelanggan. Dalam fan page ada kolom Like yang biasanya dijadikan ukuran bagus tidaknya suatu usaha oleh  para calon pelanggan. Memang tidak bisa dipungkiri kalau semakin banyak jempol berarti semakin banyak rekomendasi untuk kita memakai produk dari usaha tersebut. Yang menjadi ganjalan saya adalah ketika belakangan marak penjualan LIKE BOOSTER untuk fan page. Dimana kita tinggal membayar jasa dari aplikasi tertentu, untuk melejitkan banyaknya LIKE di fan page kita. Benar memang harus banyak “penggemar” untuk membantu kita mendapatkan banyak pelanggan, tapi bukankah hal yang demikian ini dilarang karena sama dengan menipu. Banyak sekali fan page yang tidak jelas produk nya bisa mempunyai penggemar hingga puluhan ribu orang. Tidak masalah kalau memang pelanggannya sebanyak itu, tapi kalau bohongan berarti sama saja dengan menipu masyarakat.

Sama dengan fenomena dulu –entah sekarang masih ada apa tidak– dimana banyak pedagang yang tempat jualannya ramaaaai sekali sampai bikin kita penasaran untuk mampir, tapi ternyata ramainya karena “orang bayaran” yang sengaja disuruh meramaikan suasana toko. Misalnya rumah makan, kadang kita tergiur untuk mampir karena melihat ramainya orang yang makan disana. Padahal setelah dicoba rasanya biasa saja, tidak ada yang istimewa yang segitunya membuat orang ketagihan datang kesana.  Usut punya usut, ramainya rumah makan tersebut karena pelanggannya ternyata adalah “pelanggan bayaran” yang disewa untuk mendongkrak penjualan rumah makan tersebut. Nah, ini jelas menipu kan.. begitu juga halnya dengan Like Booster, menurut saya. Jelas sekali banyaknya jempol –yang berlebihan ya– di fan page justru akan mengundang tanda tanya. Apa benar si jempol ini milik perorangan atau milik aplikasi? Hmm, jangan sampai demi mendapat kan pelanggan kita jadi menggunakan segala cara –termasuk menipu seperti ini. Lebih baik disukai oleh orang-orang yang pernah memakai jasa kita sebagai testimoni dan rekomendasi yang dapat dipertanggung-jawabkan daripada disukai oleh “penggemar siluman” kan??

Tak penting berapa jempol di fan page usaha kita, selama itu dapat dipertanggung-jawabkan tentu kita merasa lebih puas dan senang kan.

Sekedar berbagi..

Kebaikan itu..


Kebaikan itu, lakukan saja

Tak perlu dipikir lama

Tak perlu banyak dipertimbangkan

Tak perlu menunggu saat yang tepat

Tak perlu menunggu orang lain melihat

Tak perlu melihat orang yang tepat

Tetaplah menjadi baik

Pun ketika orang lain memperlakukanmu buruk

Ketika keburukan di balas keburukan

Kita sama buruknya dengan mereka itu

Tetaplah menjadi baik

Pun ketika kau dikecewakan

Karena kita juga pasti pernah mengecewakan

Dan,

Tetaplah menjadi baik

Karena malaikat pasti mencatat

*mengingat nasihat pada diri sendiri untuk tetap berbuat baik dan tidak menjadi jahat karena kekecewaan