Karena Aku Mencintaimu


PicsArt_1361392648299

Untukmu,

yang telah mampu merengkuhku dengan ketulusan dan kelembutanmu

Ketahuilah, apapun sangkaan mereka terhadapku

Aku tak seburuk yang mereka sangkakan

Aku masih disini,

Setia menunggu kepulanganmu

Bagaimanapun bicara mereka tentangku

Percayalah aku masih menjaga rasaku untukmu

Ketahuilah, aku tak akan sesak dan menyerah pada persangkaan mereka

Hatiku cukup lapang membiarkan mereka merasa menang dengan umpatan-umpatan

Biar mereka puas

Biar mereka tertawa, dendam terbalas

Aku diamkan,

Karena suatu saat aku yakin

Mereka akan diam.. Mereka akan diam

Dan menyadari nilaiku

Untukmu,

yang mampu melumat egoku dengan ketenanganmu

Rasa itu tak akan berubah, tak akan pernah

Karena mereka bukan alasan untukku bisa merubah semua rasa

Percayalah, kau pernah melewatinya

Pun aku

Dan kita akan melewatinya lagi

Kali ini bersama

Karena aku mencintaimu..

Karena aku mencintaimu..

Kontemplasi


Ada satu pertanyaan bagus yang pernah ditujukan pada saya. Yaitu apakah saya merasa saat ini lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak langsung menjawabnya, sejenak membayangkan dulu saya seperti apa dan sekarang seperti apa. Jawaban saya waktu itu adalah saya tidak merasa saya yang sekarang lebih baik saya yang dulu. Kok bisa? Penjelasan saya waktu itu, entah karena suasana hati yang sedang bernostalgia dengan masa lalu, adalah karena dulu saya memiliki banyak hal yang bisa saya banggakan. Saya jawab bahwa dari kecil saya terbiasa sibuk dengan banyak kegiatan dan semua hal itu membanggakan banyak orang, termasuk lingkungan sekitar. Dengan bangganya saya bilang sampai-sampai banyak orang tua yang ingin anaknya seperti saya, entah apa parameternya yang menjadikan mereka seperti itu. Tapi memang menyenangkan bukan mendengarnya..

Pembicaraan berakhir sampai disitu. Tapi tidak buat saya.

Pertanyaan itu entah kenapa begitu mengganggu pikiran saya. Jawaban saya menimbulkan pertanyaan baru untuk diri saya, kenapa saya merasa tidak lebih baik dari saya yang dulu sementara pencapaian saya sudah sebegini jauhnya. Untuk apa saya merasa bahwa saya mengalami penurunan kualitas hidup sementara perjalanan hidup saya telah memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga. Bukankah semua itu telah menempa saya menjadi pribadi berkualitas. Kalau boleh saya merubah jawaban saya, saya akan jawab bahwa saya bangga dengan saya di masa lalu dan saya merasa lebih baik dan lebih bangga pada diri saya saat ini.

Apa yang membuat saya tidak berbangga memiliki pribadi yang tangguh dan perkasa bak wonder woman pake motor *ketawa sendiri

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan anak bule lucu bernama Yusuf Ar-Rayyan

Apa yang membuat saya tidak berbangga toh saya mandiri dengan bisnis yang saya bangun sendiri dengan semangat yang tinggi untuk membantu mensejahterakan banyak orang

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan lika-liku hidup yang menempa saya, yang saya yakin semua itulah yang menjadi nilai tambah kualitas hidup saya.

Akhirnya,

Saya tidak punya alasan untuk diri saya tidak berbangga dengan pencapaian saya saat ini.

Belum maksimal iya, tapi tidak untuk menyerah pada nasib. Parameter berubah, jelas, dan semua tidak sama, tidak untuk dibandingkan.

Masa kecil saya begitu menyenangkan, sampai sekarang bahkan saya tidak pernah melupakan saat-saat bermain dengan kawan-kawan, dan kadang masih suka saya ulangi untuk menghidupkan memori itu dan membagi kisahnya dengan anak saya. Seperti bersepeda, renang, bertualang, dll. Menceritakan pengalaman menyenangkan dengan orang lain juga akan membawa aura senang kan..

Masa remaja begitu membanggakan, dengan sederet kegiatan dan prestasi. Nanti pasti akan diceritakan lagi ke Rayyan kalau dia sudah remaja.

Perjalanan hidup saya yang tak biasa mengkarbit saya menjadi dewasa, walau kadang saya merasa belum waktunya. Tapi itulah yang membuat saya bersyukur saat ini. Dengan tempaan-tempaan tersebut menjadikan saya tidak hanya selangkah tapi mungkin seribu lebih maju dari yang lain di usia saya.

Masih banyak alasan saya untuk berbangga dan bersyukur dengan hidup saya saat ini.

“Fabiayyi aalaai Robbikumaa tukadzdzibaaan”

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan

Ampuni aku ya Rabb

***

LOVE YOUR BUSINESS


Mengambil analogi dari tulisan sebelumnya, L.O.V.E, dalam bisnis kita juga harus memasukkan ketiga unsur cinta kedalamnya. Karena bisnis adalah juga membangun hubungan, maka mencintainya menjadi satu poin penting dalam membangunnya.

Komitmen

Jelas dibutuhkan komitmen tinggi dalam menjalankan sebuah usaha, apalagi jika usaha itu murni milik kita sendiri. Komitmen untuk tetap menjalankan roda bisnis walau hal itu tidak mudah, komitmen untuk belajar dari kesalahan dan memperbaikinya, komitmen untuk memajukan karyawan dan membantu perekonomian masyarakat. Komitmen Anda harus disesuaikan dengan visi misi perusahaan, agar jelas arah dan tujuan yang ingin dicapai dari komitmen tersebut.

Keintiman

Keintiman atau kedekatan. Ada yang bilang seorang pengusaha belum bisa dibilang sukses kalau dia belum rela meninggalkan usahanya, saya juga pernah menuliskannya di Lepas Tangan, dalam rangka memandirikan sistem perusahaan. Saya setuju, kurang lebih. Maka dari itu, harus dipastikan ketika kita meninggalkannya untuk mandiri, apakah kita telah betul-betul mengenal bisnis kita tersebut. Apakah kita tau tanda-tanda penurunan kualitas usaha kita, atau geliat-geliat membaranya. Apakah kita yakin kita telah mengenali sifat-sifat karyawan kita, pola kerja mereka, kualitas hubungan kita dengan klien, dan lain sebagainya. Silahkan dicek seberapa kenal Anda dengan bisnis Anda.

Hasrat/Gairah

Orang-orang di bidang pemasaran harus punya passion untuk bertemu banyak orang, kalo nggak gimana dia mau masarin produknya. Juga mereka yang di bidang IT, harus punya passion untuk mau update teknologi terbaru. Dan sebagainya.. Passion atau hasrat tidak bisa dibuat-buat, walau memang bisa dibangun. Hasrat yang membuat sebuah hubungan semakin bergairah, hangat, harmonis dan selaras. Begitu juga hasrat dalam bisnis, tanpa hasrat sebuah bisnis atau usaha akan hampa, seperti tidak ada ruh nya. Kalau sudah begini ya tunggu saja penurunan kualitasnya.  Para karyawan juga harus dibangun gairah kerjanya, agar mereka tidak jenuh dalam membantu Anda menjalankan bisnis. Karena mereka adalah ruh nyata sebuah usaha. Membangun gairah kerja biasanya membutuhkan personal touch dari kita sebagai business owner. Lagi-lagi mengutip tulisan saya di Lepas Tangan, jangan sekali-kali lupa untuk servis berkala para karyawan.

Jadi, bisa dipahami ya.. cinta disini tak hanya pada bisnis itu sendiri tapi juga pada personil yang terlibat di dalamnya. Seperti pepatah yang sudah sering kita dengar, hidup tanpa cinta apalah artinya. Bisnis tanpa cinta juga apalah artinya.

‘When you love life, when you love your customers, when you love your business you bring a different self to it, and effective leaders have the courage to fall in love …’- Ann McGee Cooper

Semoga bermanfaat,

Kak Mila

HALAL BIHALAL, KAJIAN FIQH MUAMALAH, BIZTRIP KPMI KORWIL BEKASI


Assalamualaikum rekan-rekan bekasi, semoga selalu sehat dan tetap semangat.

Jangan lupa hari Sabtu, 15 September 2012 pkl. 09.00-15.30 kita akan HALAL BIHALAL, KAJIAN & BIZTRIP KORWIL BEKASI yang akan diadakan di Masjid Nurul Ikhsan, Perumahan Dukuh Zamrud, Cimuning. Selengkapnya tentang acara ini bisa dilihat di https://www.facebook.com/events/480980205255326/.

Pendaftaran melalui sms ke :
Atim Firdaus  :  0812 9439 0866
Muhuila Habib  (Ketua KPMI Bekasi) :  0813 8317 4100

Apa saja kegiatan kita besok?

yang pertama, kajian fiqih muamalah dalam berbisnis supaya kita berwirausaha tetap dalam koridor syar’i yang dicontohkan Rasul. Pengisinya adalah Ust. Jaya (saya lupa nama lengkapnya) beliau adalah salah satu ustadz rekomendasi dari KPMI yang sangat enak sekali dalam menyampaikan materi. Insya Allah materi yang disampaikan sangat bermanfaat buat kita.
Selanjutnya, setelah kajian kita ramah tamah sesama peserta sekaligus makan siang dan solat zuhur. Bada solat zuhur kita akan sowan (silaturahim) ke workshop Majestic Buana Group untuk belajar dari kesuksesan seorang Pak Baedhowy, yang rela meninggalkan jabatan di perusahaan perbankan untuk menjadi seorang pengusaha. Apa usahanya? Jangan bayangkan kantor mewah dengan segala fasilitasnya, karena usahanya cuma daur ulang plastik. Jatuh bangun membangun usahanya sampai sekarang mampu menghasilkan sampah bernilai dollar (dollar lho ya..) mudah2an menjadi inspirasi buat kita untuk tetap optimis menghadapi badai bisnis.

Biaya untuk mengikuti acara ini cuma 100.000 (umum) dan 75.000 (member kpmi) aja. Semuanya digunakan untuk akomodasi ustadz, sewa ruang, makan siang, dan infaq sosial untuk adik kita Adeh Ahmad Rifai yang terkena tumor ganas di ginjalnya. ditransfer ke Bank Mandiri cab. Cibubur an. Umi Kamilah Islamiyah acc. no. 129.000.630.1275 dan konfirmasi ke Atim Firdaus  :  0812 9439 0866

Akhir kata, kehadiran teman2 sangat kami harapkan untuk membangun kembali bangunan korwil yang berserak.
Tetap semangat membangun umat.

Wassalam,

L.O.V.E


Pernah denger Triangle of Love? Triangle of Love kalau dalam bahasa Indonesia berarti Segitiga Cinta, bukan cinta segitiga lho ya.. Teori yang dikembangkan oleh psikolog Dr. Robert Stenberg ini juga baru saya dengar di mata kuliah Psikologi Sosial. Ada 3 (tiga) komponen pembentuk cinta, yaitu Commitment, Intimacy, dan Passion. Dimana dari ketiga hal tersebut dapat dilihat arti dan kekuatan hubungan yang kita miliki dengan orang lain.

Dalam teori aslinya, makna ketiga komponen tersebut adalah sbb:

  • Commitment is your willingness to stay with a certain person, to see things through with them. Our bonds with out family often demonstrate high levels of commitment.
    • Komitmen adalah kemauan kita untuk tetap bersama dengan orang tertentu, menjalani banyak hal dengan mereka. Ikatan dengan keluarga biasanya sering disebut sebagai level tertinggi dalam komitmen.
  • Intimacy is how connected, bonded and close you feel to someone. It’s the friendship part of the relationship – how well you know that person, their hopes, dreams and fears.
    • Keintiman adalah seberapa dekat, terikat, dan terhubungnya kita dengan seseorang. Hubungan persahabatan masuk dalam kategori hubungan ini, seberapa baik kita mengenal diri, mimpi, bahkan ketakutan mereka.
  • Passion relates to your attraction to a person in a romantic and erotic sense.
    • Hasrat berhubungan dengan ketertarikan kita pada seseorang dalam perasaan romantic dan erotis.

Menurut Dr. Sternberg, setiap hubungan pasti ada di salah satu sisi segitiga karena campuran dasar cinta semua sama, yaitu Komitmen, Keintiman, dan Hasrat tadi. Pengalaman cinta anda akan tergantung pada kekuatan relatif atau kelemahan dari masing-masing elemen. Kombinasi dua atau lebih dari komponen tersebut akan menjadi bentuk hubungan cinta yang berbeda-beda.

Biar lebih santai, mari saya jelaskan sesimpel mungkin mengenai bentuk hubungan tersebut:

  • Komitmen (saja) = kalau cuma komitmen aja, itu bukan cinta namanya tapi menjalankan kewajiban untuk tetap berkomitmen. Makanya ada pernikahan yang masing-masing membolehkan pasangannya punya pasangan lain, karena mereka hanya menjalankan “komitmen” pernikahan yang terjadi akibat satu dan atau lain hal. Makanya disebut empty love, cinta yang kosong.
  • Keintiman (saja) = keintiman bisa terjadi dalam satu hubungan baru masuk dalam kategori suka. Seperti kita suka berteman dengan teman-teman lama. Selama yang terjadi hanya keintiman atau kedekatan, kategori suka tidak akan berkembang menjadi status hubungan lainnya.
  • Hasrat (saja) = Hubungan yang terjalin karena hasrat bisa jadi berawal dari “cinta pada pandangan pertama” karena yang mendasari hubungan ini terjadi adalah hasrat (seksual). Kalau tidak diimbangi dengan komponen cinta lainnya, hubungan ini akan jadi hubungan yang cepat datang dan cepat (pula) pergi.  Hubungan ini disebut juga Infatuation Love (cinta yang tergila-gila).
  • Komitmen + Keintiman = komitmen dan keintiman menghasilkan Companionate Love. Hubungan ini bersifat non-seksual seperti hubungan persahabatan, keluarga, rekan kerja, dll. Hati-hati kalau ada si hasrat masuk dalam hubungan ini, bisa jadi cinta nanti..
  • Komitmen + Hasrat = duh, apa-apaan ini hubungan kok cuma nafsu sama komitmen aja tapi gak ada kedekatan antar pribadi. Hampa banget kayaknya, mirip-mirip empty love tinggal ditambah sedikit kesenangan nafsu aja. Bahasa kerennya Fatuous Love.
  • Keintiman + Hasrat = ini dia si Romantic Love, hubungan di sisi ini tuh indaaaaaaaaah banget karena dua komponennya sama-sama berada di ranah mind dan body bersatu. Romantis belum tentu berkomitmen, jadi jangan puas kalo hubungan cuma berada di sisi ini ya..
  • Komitmen + Keintiman + Hasrat = gabungan ketiga komponen pembentuk cinta membentuk hubungan yang disebut Consummate Love. Ini bentuk idealnya sebuah hubungan. Kita mencintai dengan penuh gairah, kedekatan emosional dan fisik ditambah memegang komitmen yang dibuat bersama. Ya mungkin ini juga yang disebut cinta sejati.

 

Sekarang, dimana posisi kita dalam sebuah hubungan, silahkan cek sendiri. Ketiga komponen ini bisa dibangun dalam waktu bersamaan dan bisa juga terbentuk perlahan. Tak jarang sebuah persahabatan berubah dari keintiman menjadi keintiman yang berkomitmen dan bergairah. Kita semua memiliki alur yang berbeda seiring pergerakan hubungan (penurunan atau peningkatan) dari waktu ke waktu dalam perjalanan hubungan kita dengan orang lain.

Sekedar berbagi,

Kak Mila

Lepas Tangan


Masih inget kan waktu kecil belajar naik sepeda roda dua? Kalau saya dulu pertama-tama dipegangin dulu jok belakang sepedanya, trus didorong dan dilepas sehingga si sepeda jalan (sendiri) dengan saya diatasnya. Kenapa saya bilang sepeda jalan sendiri, karena sepedanya belum bisa di kontrol, yang ada kita pasrah sampai itu sepeda jatuh karena udah gak seimbang. Waktu belajar sepeda cukup singkat buat saya, 2-3x latihan udah cukup bikin saya lancar naik sepeda roda dua. Itu cerita kelas 3 SD.

Pernah lepas tangan saat naik sepeda? Pernah doonk.. bahkan hampir setiap naik sepeda dulu saya selalu lepas tangan, santai, badan tegak, menghirup udara sore yang (dulu masih) seger karena (dulu masih) banyak pohon dan sawah. Angin sepoi-sepoi, langit sore yang indah banget, nunggu magrib..

*hmphfh..hela nafas sambil lihat keadaan komplek sekarang

Karena sudah bisa naik sepeda maka saya harus bisa naik motor, begitulah kira-kira tekad saya waktu itu. Hitungan jam saya sudah bisa naik motor (naik ya..), belum tau mana gigi, rem, lampu sen, dll saya nekat bawa motor keliling komplek. Hasilnya setir motor bengkok karena jatuh, plus sedikit lecet =D  tapi itu setelah 2 jam keliling lho, berani bonceng temen pula he *dilarang keras meniru adegan ini. Bawa motor ke pom bensin tanpa tau letak tangki bensin dimana dan gimana cara bukanya.. berani banget ya kakak kita yang satu ini, hehe.. tapi teman, memang dibutuhkan keberanian untuk memulai dan bisa melakukan sesuatu.  Itu cerita kelas 2 SMP.

Pernah lepas tangan saat naik motor? Hmmh, mungkin ada yang pernah tapi saya yakin kebanyakan tidak berani.

Setiap kali mengendarai motor di jalanan komplek yang mulus, saya pasti sering ingat saat-saat bandel dulu suka naik sepeda lepas tangan. Keberanian lepas tangan itu bukan untuk jarak dekat semeter dua meter dengan tangan stand by diatas setang sepeda, tapi benar-benar lepas tangan dan santai mengayuh sepeda. Tiap sore sepedaan udah jadi kewajiban buat saya. Dan sekarang, karena sepedanya udah berubah jadi motor, masih sering timbul keinginan untuk coba mengendarainya lepas tangan. Tapi ternyata keberanian saya gak sebesar itu. Seberani-beraninya, tangan tetap stand by diatas setir, dan gak berani lama-lama, hitungan detik udah grogi.

Dan siang ini, saya mulai lagi..hehe, coba lepas tangan selama mungkin (tetap stand by buat jaga-jaga =))

Tiba-tiba melamun..

Menjalankan bisnis itu ibarat mengendarai kendaraan, sesekali perlu lepas tangan dari setir. Rasakan sensasinya namun tetap fokus mengontrolnya.  Dan perhatikan berapa lama kendaraan anda berjalan dengan seimbang tanpa campur tangan anda. Ketika roda mulai goyah, pegang lagi setirnya, kendalikan dan arahkan sesuai dengan tujuan anda.

Kalau sudah mahir bersepeda, Anda dipastikan dengan mudah bisa mengendarai motor. Level kendaraan seperti level perusahaan yang anda kendarai, dari yang kecil yaitu sepeda yang harus tetap dikayuh walaupun sudah mahir lepas tangan, naik ke motor dengan tantangan dan resiko yang lebih berat , dan seterusnya. Tapi itu menandakan Anda telah naik level, bukan? Semakin tinggi level usaha kita, semakin harus hati-hati kita membawanya dan memperhatikan pakem-pakemnya. Mungkin waktu kita “masih bersepeda”, tidak banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi. Resiko “ditilang” juga nggak ada. Tapi begitu kita mengendarai “kendaraan yang lebih besar”, rambu-rambu seolah berjejer di depan mata, dan semua harus dipatuhi supaya “tidak ditilang” apalagi “celaka”.

Kembali ke lepas tangan..

Cobalah sesekali melepas bisnis dari campur tangan anda. Perhatikan apakah usaha anda bisa berjalan lancar ketika anda tidak hadir disitu. Atau kehadiran “tangan” anda masih menjadi penentu berjalannya usaha anda. Jika usaha tersebut goyah ketika ditinggal, berarti sistem yang anda terapkan belum bisa menjaga keseimbangan perusahaan. Benahi..

Jika sudah bisa dilepas, berapa lama usaha anda bisa ditinggalkan tangan anda. Semakin lama usaha anda bisa ditinggal, dengan roda yang tetap berjalan, tetap menghasilkan sesuai target usaha anda, berarti semakin seimbang sistem anda. Tapi jangan lupa, pegang kembali setir anda, perhatikan apakah kendaraan anda masih fit untuk dikendarai atau sudah saatnya diservis. Datangi orang-orang yang membantu menjalankan sistem usaha anda, “servis” mereka dengan perhatian dari anda sebagai bentuk terima kasih anda kepada mereka.

Untuk mengecek keberanian anda “melepas-tangankan” usaha anda, silahkan uji nyali lepas tangan dari setir kendaraan anda =) keberanian anda harusnya lebih dari itu kan.

Saya sendiri, ternyata masih harus “stand by di atas setir” dalam menjalankan usaha Jalan-jalan Edukasi yang saya bangun. Level motor, masih “takut jatuh“ kalau dilepas terlalu lama. Satu saat (tekad kuat) saya harus merasakan sensasi lepas tangan “mengendarai motor” seperti dulu saya menikmati lepas tangan saat bersepeda. Itulah tandanya saya siap naik ke “level mobil”, tantangannya pasti lebih berat. Mudah-mudahan ketika sampai di level itu, saya sudah benar-benar lepas tangan. Maksudnya driver yang nganterin kemana-mana =) ya nggak.. kalau udah di level mobil berarti (harusnya) sistem usaha harus sudah berjalan tanpa campur tangan kita. Namun ingat, kunci (kendali) harus tetap di tangan kita ya..

Yang pasti, semua adalah proses. Saya berusaha menikmati setiap proses yang saya lewati..

Sekedar berbagi.

Salam,

Kak Mila

Drug Store


Di satu resort, saat sedang jalan-jalan santai.

Rayyan mengeja semua papan nama yang tertera di resort, mulai dari papan penunjuk arah sampai papan nama toko.

Dan sampailah di sebuah toko.

Rayyan: Umma, itu ada toko narkoba

Umma: Hah, toko narkoba? Mana?

Rayyan: Itu, bacaannya toko narkoba berarti dia jual narkoba

Umma: Yang mana?

Rayyan: Itu, DRUG STORE. Kan kata Umma DRUGS itu narkoba. NO DRUGS NO ALCOHOL. Berarti DRUG STORE toko narkoba

Umma: (sambil terpingkal-pingkal) bukan itu maksudnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

Selanjutnya Umma berusaha menjelaskan tentang arti DRUG ke Rayyan (dengan berbagai cara karena banyak penjelasan banyak pertanyaan balik).

***

Obrolan tadi tidak berhenti sampai disitu karena akhirnya menjadi satu “pelajaran singkat tapi mengena” mengenai perbedaan DRUG obat-obatan dan DRUG yang masuk dalam narkoba, juga perbedaan drug store alias toko obat dengan apotek. Sekedar berbagi dari saya..

*bersambung..

The Pursuit Of Happyness ~ Mengejar Kebahagiaan


Waktu nemu film ini, saya belum pernah sama sekali dengar judulnya. Saya juga tidak pernah tau siapa yang beli cd nya (mungkin adik saya). Yang pasti cd film itu sudah bertumpuk dengan puluhan judul lainnya di rak buku saya. Keputusan saya akhirnya menonton film itu adalah pertama karena aktornya si Will Smith, saya ini termasuk salah satu penggemar negro paling ganteng itu (menurut saya lho =D) udah pasti aktingya keren banget. Kedua karena di cover film nya gak cuma ada mas Will, tp ada anaknya juga. Jadi bener-bener saya gak tau apapun tentang film ini selain karena Will Smith nya. Tanpa baca sinopsis di cover belakang, saya langsung tonton film ini, sendirian..

Nonton mas Will dengan latar belakang tahun ’80an, dalam kondisi yang miskin banget, jadi kasian.. *gak nyambung..

let’s serious

Di film ini, Will Smith adalah Chris Gardner, seorang salesman alat scanner tulang yang tinggal bersama istri dan 1 anaknya, Christopher, di rumah kontrakannya. Karena sukses jualan, dia putuskan untuk membeli stok alat tersebut dalam jumlah banyak . Apa daya, begitu uang habis, barang banyak, gak semuanya habis terjual. Tiba-tiba saja uang yang mereka kumpulkan sudah habis untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, sementara alat scanner masih banyak bertumpuk di sudut ruangan.

Linda, istri Chris, memutuskan untuk bekerja lagi di binatu. Sedangkan anak mereka setiap hari dititipkan di sekolah. Chris sendiri bingung mau bagaimana, tapi setiap hari ia tetap keluar rumah dengan setelan jas lengkap membawa satu atau dua alat scanner nya, menjajakan door to door ke tempat praktek dokter yang ia lewati. Sepanjang perjalanannya seringkali ia meratapi nasibnya, dari seorang bintang kelas yang rasanya hampir semua pekerjaan harusnya bisa ia masuki dengan mudah, tiba-tiba menghadapi kenyataan dirinya berada di pinggir jalan menjajakan mesin scanner tulang.

Keadaan ini berlangsung berbulan-bulan sampai akhirnya sang istri memutuskan untuk meninggalkan Chris. Ia tak bisa melarang istrinya untuk meninggalkannya, ia hanya memohon untuk tidak membawa anaknya. Ia bersikukuh menjaga anaknya bersamanya. Maka dimulailah petualangan ayah-anak mencari kebahagiaan mereka.

Dalam satu perjalanannya menjajakan mesin scanner, ia melewati sebuah mobil mewah berwarna merah dan memandanginya. Ketika ia berpikir tentang bagaimana orang bisa mendapatkan mobil seperti ini, datanglah si empunya mobil. Dengan ramah ia bertanya pada orang tersebut “bagaimana anda bisa membeli mobil mewah seperti ini?” sang pemilik menjawab “dari sana”, katanya sambil menunjuk gedung tinggi di belakangnya. Gedung tersebut adalah kantor pialang Dean Witter. Si pemilik mobil memberi bocoran kalau peserta magang yang terbaik di kantor tersebut bisa mendapatkan pekerjaan tetap dengan penghasilan tinggi, namun dalam masa magang tidak ada gaji sama sekali. Berbekal tekad mengubah nasib, Chris nekat masuk kedalam kantor tersebut dan mendaftar sebagai peserta magang. Namun interview pertama sudah kurang meyakinkan untuk ia bisa diterima..

Singkat cerita, begitu ia diterima magang di kantor pialang tersebut tanpa gaji, tentu saja hidupnya jadi tambah berantakan. Setiap hari ia harus membawa 1 koper baju (karena sudah diusir dari kontrakan), menggandeng bocah, dan menenteng 1 mesin scanner yang tersisa sebagai harapan terakhir punya uang berlebih.

Cerita menjadi semakin trenyuh setiap kali ia harus pulang jalan kaki atau mengejar bus untuk mengejar kamar penampungan di gereja dimana ia harus mengantri untuk mendapat tempat disana. Ya, ia mengantri bersama ratusan gelandangan di kota itu, berebut satu kasur kosong untuk satu malam tidur tanpa tau esok tidur dimana lagi karena belum tentu ia masih mendapatkan tempatnya disitu. Saya nangis ketika tiap kali ia tidur memeluk anaknya, dengan tatapan kosong dan airmata yang mengalir. Pasti panas..

Kerasnya hidup tersebut berada di ujung tanduk ketika ia harus menghadapi hari terakhir magang tanpa mendapatkan satu orang pun klien selama masa magangnya. Ia sudah pasrah dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Ketika akhirnya ia dipanggil ke meja dewan direksi dan mendapatkan ucapan selamat dari perusahaan yang memutuskan menerimanya sebagai pegawai tetap karena ketekunan dan keramahannya melayani orang, ia tidak dapat lagi berkata-kata. Ia segera keluar dari ruangan, bahkan dari gedung tersebut, berjalan membaur ketengah kerumunan orang yang berlalu lalang di jalan, emosi Will Smith bener-bener “dapet” banget, untuk meluapkan kebahagiaannya. Orang pertama yang ia jumpai adalah anaknya, Christopher. Chris berlari menuju tempat penitipan anaknya, dan masuk kedalam kelas hanya untuk memeluknya, tanpa kata-kata.

Dalam kehidupan nyata, beberapa tahun setelah Chris Gardner bekerja di perusahaan pialang tersebut, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu.
Film yang inspiratif dan menguras emosi.

Dari sekeping cd yang tidak bertuan, menjadi salah satu film favorit saya. Dan saya selalu menontonnya ketika saya butuh tambahan energi untuk bangkit dari kejemuan.
Selamat menonton..

Salam,

Kak Mila

baca juga:

resensi film The Pursuit Of Happyness versi Wikipedia

Event Ultah 3th Blogger Bekasi


Temans, Blogger Bekasi atau yang lebih akrab dengan sebutan Beblog bakalan ngegelar acara seru (lagi) nih. Kalo kemarin udah bikin “NgabuburIT bareng IT Sehat”, kali ini dalam rangka ulang tahunnya yang ke-3 BeBlog bikin lagi acara seru yang mengusung tema “3 tahun Blogger Bekasi Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Kapan, apa aja dan siapa aja yang bakal ada di acara ini, langsung aja cek ke TKP buat info yang selengkap-lengkapnya…

Salam,

Kak Mila