Kontemplasi


Ada satu pertanyaan bagus yang pernah ditujukan pada saya. Yaitu apakah saya merasa saat ini lebih baik dari sebelumnya. Saya tidak langsung menjawabnya, sejenak membayangkan dulu saya seperti apa dan sekarang seperti apa. Jawaban saya waktu itu adalah saya tidak merasa saya yang sekarang lebih baik saya yang dulu. Kok bisa? Penjelasan saya waktu itu, entah karena suasana hati yang sedang bernostalgia dengan masa lalu, adalah karena dulu saya memiliki banyak hal yang bisa saya banggakan. Saya jawab bahwa dari kecil saya terbiasa sibuk dengan banyak kegiatan dan semua hal itu membanggakan banyak orang, termasuk lingkungan sekitar. Dengan bangganya saya bilang sampai-sampai banyak orang tua yang ingin anaknya seperti saya, entah apa parameternya yang menjadikan mereka seperti itu. Tapi memang menyenangkan bukan mendengarnya..

Pembicaraan berakhir sampai disitu. Tapi tidak buat saya.

Pertanyaan itu entah kenapa begitu mengganggu pikiran saya. Jawaban saya menimbulkan pertanyaan baru untuk diri saya, kenapa saya merasa tidak lebih baik dari saya yang dulu sementara pencapaian saya sudah sebegini jauhnya. Untuk apa saya merasa bahwa saya mengalami penurunan kualitas hidup sementara perjalanan hidup saya telah memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga. Bukankah semua itu telah menempa saya menjadi pribadi berkualitas. Kalau boleh saya merubah jawaban saya, saya akan jawab bahwa saya bangga dengan saya di masa lalu dan saya merasa lebih baik dan lebih bangga pada diri saya saat ini.

Apa yang membuat saya tidak berbangga memiliki pribadi yang tangguh dan perkasa bak wonder woman pake motor *ketawa sendiri

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan anak bule lucu bernama Yusuf Ar-Rayyan

Apa yang membuat saya tidak berbangga toh saya mandiri dengan bisnis yang saya bangun sendiri dengan semangat yang tinggi untuk membantu mensejahterakan banyak orang

Apa yang membuat saya tidak berbangga dengan lika-liku hidup yang menempa saya, yang saya yakin semua itulah yang menjadi nilai tambah kualitas hidup saya.

Akhirnya,

Saya tidak punya alasan untuk diri saya tidak berbangga dengan pencapaian saya saat ini.

Belum maksimal iya, tapi tidak untuk menyerah pada nasib. Parameter berubah, jelas, dan semua tidak sama, tidak untuk dibandingkan.

Masa kecil saya begitu menyenangkan, sampai sekarang bahkan saya tidak pernah melupakan saat-saat bermain dengan kawan-kawan, dan kadang masih suka saya ulangi untuk menghidupkan memori itu dan membagi kisahnya dengan anak saya. Seperti bersepeda, renang, bertualang, dll. Menceritakan pengalaman menyenangkan dengan orang lain juga akan membawa aura senang kan..

Masa remaja begitu membanggakan, dengan sederet kegiatan dan prestasi. Nanti pasti akan diceritakan lagi ke Rayyan kalau dia sudah remaja.

Perjalanan hidup saya yang tak biasa mengkarbit saya menjadi dewasa, walau kadang saya merasa belum waktunya. Tapi itulah yang membuat saya bersyukur saat ini. Dengan tempaan-tempaan tersebut menjadikan saya tidak hanya selangkah tapi mungkin seribu lebih maju dari yang lain di usia saya.

Masih banyak alasan saya untuk berbangga dan bersyukur dengan hidup saya saat ini.

“Fabiayyi aalaai Robbikumaa tukadzdzibaaan”

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan

Ampuni aku ya Rabb

***

LOVE YOUR BUSINESS


Mengambil analogi dari tulisan sebelumnya, L.O.V.E, dalam bisnis kita juga harus memasukkan ketiga unsur cinta kedalamnya. Karena bisnis adalah juga membangun hubungan, maka mencintainya menjadi satu poin penting dalam membangunnya.

Komitmen

Jelas dibutuhkan komitmen tinggi dalam menjalankan sebuah usaha, apalagi jika usaha itu murni milik kita sendiri. Komitmen untuk tetap menjalankan roda bisnis walau hal itu tidak mudah, komitmen untuk belajar dari kesalahan dan memperbaikinya, komitmen untuk memajukan karyawan dan membantu perekonomian masyarakat. Komitmen Anda harus disesuaikan dengan visi misi perusahaan, agar jelas arah dan tujuan yang ingin dicapai dari komitmen tersebut.

Keintiman

Keintiman atau kedekatan. Ada yang bilang seorang pengusaha belum bisa dibilang sukses kalau dia belum rela meninggalkan usahanya, saya juga pernah menuliskannya di Lepas Tangan, dalam rangka memandirikan sistem perusahaan. Saya setuju, kurang lebih. Maka dari itu, harus dipastikan ketika kita meninggalkannya untuk mandiri, apakah kita telah betul-betul mengenal bisnis kita tersebut. Apakah kita tau tanda-tanda penurunan kualitas usaha kita, atau geliat-geliat membaranya. Apakah kita yakin kita telah mengenali sifat-sifat karyawan kita, pola kerja mereka, kualitas hubungan kita dengan klien, dan lain sebagainya. Silahkan dicek seberapa kenal Anda dengan bisnis Anda.

Hasrat/Gairah

Orang-orang di bidang pemasaran harus punya passion untuk bertemu banyak orang, kalo nggak gimana dia mau masarin produknya. Juga mereka yang di bidang IT, harus punya passion untuk mau update teknologi terbaru. Dan sebagainya.. Passion atau hasrat tidak bisa dibuat-buat, walau memang bisa dibangun. Hasrat yang membuat sebuah hubungan semakin bergairah, hangat, harmonis dan selaras. Begitu juga hasrat dalam bisnis, tanpa hasrat sebuah bisnis atau usaha akan hampa, seperti tidak ada ruh nya. Kalau sudah begini ya tunggu saja penurunan kualitasnya.  Para karyawan juga harus dibangun gairah kerjanya, agar mereka tidak jenuh dalam membantu Anda menjalankan bisnis. Karena mereka adalah ruh nyata sebuah usaha. Membangun gairah kerja biasanya membutuhkan personal touch dari kita sebagai business owner. Lagi-lagi mengutip tulisan saya di Lepas Tangan, jangan sekali-kali lupa untuk servis berkala para karyawan.

Jadi, bisa dipahami ya.. cinta disini tak hanya pada bisnis itu sendiri tapi juga pada personil yang terlibat di dalamnya. Seperti pepatah yang sudah sering kita dengar, hidup tanpa cinta apalah artinya. Bisnis tanpa cinta juga apalah artinya.

‘When you love life, when you love your customers, when you love your business you bring a different self to it, and effective leaders have the courage to fall in love …’- Ann McGee Cooper

Semoga bermanfaat,

Kak Mila

HALAL BIHALAL, KAJIAN FIQH MUAMALAH, BIZTRIP KPMI KORWIL BEKASI


Assalamualaikum rekan-rekan bekasi, semoga selalu sehat dan tetap semangat.

Jangan lupa hari Sabtu, 15 September 2012 pkl. 09.00-15.30 kita akan HALAL BIHALAL, KAJIAN & BIZTRIP KORWIL BEKASI yang akan diadakan di Masjid Nurul Ikhsan, Perumahan Dukuh Zamrud, Cimuning. Selengkapnya tentang acara ini bisa dilihat di https://www.facebook.com/events/480980205255326/.

Pendaftaran melalui sms ke :
Atim Firdaus  :  0812 9439 0866
Muhuila Habib  (Ketua KPMI Bekasi) :  0813 8317 4100

Apa saja kegiatan kita besok?

yang pertama, kajian fiqih muamalah dalam berbisnis supaya kita berwirausaha tetap dalam koridor syar’i yang dicontohkan Rasul. Pengisinya adalah Ust. Jaya (saya lupa nama lengkapnya) beliau adalah salah satu ustadz rekomendasi dari KPMI yang sangat enak sekali dalam menyampaikan materi. Insya Allah materi yang disampaikan sangat bermanfaat buat kita.
Selanjutnya, setelah kajian kita ramah tamah sesama peserta sekaligus makan siang dan solat zuhur. Bada solat zuhur kita akan sowan (silaturahim) ke workshop Majestic Buana Group untuk belajar dari kesuksesan seorang Pak Baedhowy, yang rela meninggalkan jabatan di perusahaan perbankan untuk menjadi seorang pengusaha. Apa usahanya? Jangan bayangkan kantor mewah dengan segala fasilitasnya, karena usahanya cuma daur ulang plastik. Jatuh bangun membangun usahanya sampai sekarang mampu menghasilkan sampah bernilai dollar (dollar lho ya..) mudah2an menjadi inspirasi buat kita untuk tetap optimis menghadapi badai bisnis.

Biaya untuk mengikuti acara ini cuma 100.000 (umum) dan 75.000 (member kpmi) aja. Semuanya digunakan untuk akomodasi ustadz, sewa ruang, makan siang, dan infaq sosial untuk adik kita Adeh Ahmad Rifai yang terkena tumor ganas di ginjalnya. ditransfer ke Bank Mandiri cab. Cibubur an. Umi Kamilah Islamiyah acc. no. 129.000.630.1275 dan konfirmasi ke Atim Firdaus  :  0812 9439 0866

Akhir kata, kehadiran teman2 sangat kami harapkan untuk membangun kembali bangunan korwil yang berserak.
Tetap semangat membangun umat.

Wassalam,

L.O.V.E


Pernah denger Triangle of Love? Triangle of Love kalau dalam bahasa Indonesia berarti Segitiga Cinta, bukan cinta segitiga lho ya.. Teori yang dikembangkan oleh psikolog Dr. Robert Stenberg ini juga baru saya dengar di mata kuliah Psikologi Sosial. Ada 3 (tiga) komponen pembentuk cinta, yaitu Commitment, Intimacy, dan Passion. Dimana dari ketiga hal tersebut dapat dilihat arti dan kekuatan hubungan yang kita miliki dengan orang lain.

Dalam teori aslinya, makna ketiga komponen tersebut adalah sbb:

  • Commitment is your willingness to stay with a certain person, to see things through with them. Our bonds with out family often demonstrate high levels of commitment.
    • Komitmen adalah kemauan kita untuk tetap bersama dengan orang tertentu, menjalani banyak hal dengan mereka. Ikatan dengan keluarga biasanya sering disebut sebagai level tertinggi dalam komitmen.
  • Intimacy is how connected, bonded and close you feel to someone. It’s the friendship part of the relationship – how well you know that person, their hopes, dreams and fears.
    • Keintiman adalah seberapa dekat, terikat, dan terhubungnya kita dengan seseorang. Hubungan persahabatan masuk dalam kategori hubungan ini, seberapa baik kita mengenal diri, mimpi, bahkan ketakutan mereka.
  • Passion relates to your attraction to a person in a romantic and erotic sense.
    • Hasrat berhubungan dengan ketertarikan kita pada seseorang dalam perasaan romantic dan erotis.

Menurut Dr. Sternberg, setiap hubungan pasti ada di salah satu sisi segitiga karena campuran dasar cinta semua sama, yaitu Komitmen, Keintiman, dan Hasrat tadi. Pengalaman cinta anda akan tergantung pada kekuatan relatif atau kelemahan dari masing-masing elemen. Kombinasi dua atau lebih dari komponen tersebut akan menjadi bentuk hubungan cinta yang berbeda-beda.

Biar lebih santai, mari saya jelaskan sesimpel mungkin mengenai bentuk hubungan tersebut:

  • Komitmen (saja) = kalau cuma komitmen aja, itu bukan cinta namanya tapi menjalankan kewajiban untuk tetap berkomitmen. Makanya ada pernikahan yang masing-masing membolehkan pasangannya punya pasangan lain, karena mereka hanya menjalankan “komitmen” pernikahan yang terjadi akibat satu dan atau lain hal. Makanya disebut empty love, cinta yang kosong.
  • Keintiman (saja) = keintiman bisa terjadi dalam satu hubungan baru masuk dalam kategori suka. Seperti kita suka berteman dengan teman-teman lama. Selama yang terjadi hanya keintiman atau kedekatan, kategori suka tidak akan berkembang menjadi status hubungan lainnya.
  • Hasrat (saja) = Hubungan yang terjalin karena hasrat bisa jadi berawal dari “cinta pada pandangan pertama” karena yang mendasari hubungan ini terjadi adalah hasrat (seksual). Kalau tidak diimbangi dengan komponen cinta lainnya, hubungan ini akan jadi hubungan yang cepat datang dan cepat (pula) pergi.  Hubungan ini disebut juga Infatuation Love (cinta yang tergila-gila).
  • Komitmen + Keintiman = komitmen dan keintiman menghasilkan Companionate Love. Hubungan ini bersifat non-seksual seperti hubungan persahabatan, keluarga, rekan kerja, dll. Hati-hati kalau ada si hasrat masuk dalam hubungan ini, bisa jadi cinta nanti..
  • Komitmen + Hasrat = duh, apa-apaan ini hubungan kok cuma nafsu sama komitmen aja tapi gak ada kedekatan antar pribadi. Hampa banget kayaknya, mirip-mirip empty love tinggal ditambah sedikit kesenangan nafsu aja. Bahasa kerennya Fatuous Love.
  • Keintiman + Hasrat = ini dia si Romantic Love, hubungan di sisi ini tuh indaaaaaaaaah banget karena dua komponennya sama-sama berada di ranah mind dan body bersatu. Romantis belum tentu berkomitmen, jadi jangan puas kalo hubungan cuma berada di sisi ini ya..
  • Komitmen + Keintiman + Hasrat = gabungan ketiga komponen pembentuk cinta membentuk hubungan yang disebut Consummate Love. Ini bentuk idealnya sebuah hubungan. Kita mencintai dengan penuh gairah, kedekatan emosional dan fisik ditambah memegang komitmen yang dibuat bersama. Ya mungkin ini juga yang disebut cinta sejati.

 

Sekarang, dimana posisi kita dalam sebuah hubungan, silahkan cek sendiri. Ketiga komponen ini bisa dibangun dalam waktu bersamaan dan bisa juga terbentuk perlahan. Tak jarang sebuah persahabatan berubah dari keintiman menjadi keintiman yang berkomitmen dan bergairah. Kita semua memiliki alur yang berbeda seiring pergerakan hubungan (penurunan atau peningkatan) dari waktu ke waktu dalam perjalanan hubungan kita dengan orang lain.

Sekedar berbagi,

Kak Mila

Lepas Tangan


Masih inget kan waktu kecil belajar naik sepeda roda dua? Kalau saya dulu pertama-tama dipegangin dulu jok belakang sepedanya, trus didorong dan dilepas sehingga si sepeda jalan (sendiri) dengan saya diatasnya. Kenapa saya bilang sepeda jalan sendiri, karena sepedanya belum bisa di kontrol, yang ada kita pasrah sampai itu sepeda jatuh karena udah gak seimbang. Waktu belajar sepeda cukup singkat buat saya, 2-3x latihan udah cukup bikin saya lancar naik sepeda roda dua. Itu cerita kelas 3 SD.

Pernah lepas tangan saat naik sepeda? Pernah doonk.. bahkan hampir setiap naik sepeda dulu saya selalu lepas tangan, santai, badan tegak, menghirup udara sore yang (dulu masih) seger karena (dulu masih) banyak pohon dan sawah. Angin sepoi-sepoi, langit sore yang indah banget, nunggu magrib..

*hmphfh..hela nafas sambil lihat keadaan komplek sekarang

Karena sudah bisa naik sepeda maka saya harus bisa naik motor, begitulah kira-kira tekad saya waktu itu. Hitungan jam saya sudah bisa naik motor (naik ya..), belum tau mana gigi, rem, lampu sen, dll saya nekat bawa motor keliling komplek. Hasilnya setir motor bengkok karena jatuh, plus sedikit lecet =D  tapi itu setelah 2 jam keliling lho, berani bonceng temen pula he *dilarang keras meniru adegan ini. Bawa motor ke pom bensin tanpa tau letak tangki bensin dimana dan gimana cara bukanya.. berani banget ya kakak kita yang satu ini, hehe.. tapi teman, memang dibutuhkan keberanian untuk memulai dan bisa melakukan sesuatu.  Itu cerita kelas 2 SMP.

Pernah lepas tangan saat naik motor? Hmmh, mungkin ada yang pernah tapi saya yakin kebanyakan tidak berani.

Setiap kali mengendarai motor di jalanan komplek yang mulus, saya pasti sering ingat saat-saat bandel dulu suka naik sepeda lepas tangan. Keberanian lepas tangan itu bukan untuk jarak dekat semeter dua meter dengan tangan stand by diatas setang sepeda, tapi benar-benar lepas tangan dan santai mengayuh sepeda. Tiap sore sepedaan udah jadi kewajiban buat saya. Dan sekarang, karena sepedanya udah berubah jadi motor, masih sering timbul keinginan untuk coba mengendarainya lepas tangan. Tapi ternyata keberanian saya gak sebesar itu. Seberani-beraninya, tangan tetap stand by diatas setir, dan gak berani lama-lama, hitungan detik udah grogi.

Dan siang ini, saya mulai lagi..hehe, coba lepas tangan selama mungkin (tetap stand by buat jaga-jaga =))

Tiba-tiba melamun..

Menjalankan bisnis itu ibarat mengendarai kendaraan, sesekali perlu lepas tangan dari setir. Rasakan sensasinya namun tetap fokus mengontrolnya.  Dan perhatikan berapa lama kendaraan anda berjalan dengan seimbang tanpa campur tangan anda. Ketika roda mulai goyah, pegang lagi setirnya, kendalikan dan arahkan sesuai dengan tujuan anda.

Kalau sudah mahir bersepeda, Anda dipastikan dengan mudah bisa mengendarai motor. Level kendaraan seperti level perusahaan yang anda kendarai, dari yang kecil yaitu sepeda yang harus tetap dikayuh walaupun sudah mahir lepas tangan, naik ke motor dengan tantangan dan resiko yang lebih berat , dan seterusnya. Tapi itu menandakan Anda telah naik level, bukan? Semakin tinggi level usaha kita, semakin harus hati-hati kita membawanya dan memperhatikan pakem-pakemnya. Mungkin waktu kita “masih bersepeda”, tidak banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi. Resiko “ditilang” juga nggak ada. Tapi begitu kita mengendarai “kendaraan yang lebih besar”, rambu-rambu seolah berjejer di depan mata, dan semua harus dipatuhi supaya “tidak ditilang” apalagi “celaka”.

Kembali ke lepas tangan..

Cobalah sesekali melepas bisnis dari campur tangan anda. Perhatikan apakah usaha anda bisa berjalan lancar ketika anda tidak hadir disitu. Atau kehadiran “tangan” anda masih menjadi penentu berjalannya usaha anda. Jika usaha tersebut goyah ketika ditinggal, berarti sistem yang anda terapkan belum bisa menjaga keseimbangan perusahaan. Benahi..

Jika sudah bisa dilepas, berapa lama usaha anda bisa ditinggalkan tangan anda. Semakin lama usaha anda bisa ditinggal, dengan roda yang tetap berjalan, tetap menghasilkan sesuai target usaha anda, berarti semakin seimbang sistem anda. Tapi jangan lupa, pegang kembali setir anda, perhatikan apakah kendaraan anda masih fit untuk dikendarai atau sudah saatnya diservis. Datangi orang-orang yang membantu menjalankan sistem usaha anda, “servis” mereka dengan perhatian dari anda sebagai bentuk terima kasih anda kepada mereka.

Untuk mengecek keberanian anda “melepas-tangankan” usaha anda, silahkan uji nyali lepas tangan dari setir kendaraan anda =) keberanian anda harusnya lebih dari itu kan.

Saya sendiri, ternyata masih harus “stand by di atas setir” dalam menjalankan usaha Jalan-jalan Edukasi yang saya bangun. Level motor, masih “takut jatuh“ kalau dilepas terlalu lama. Satu saat (tekad kuat) saya harus merasakan sensasi lepas tangan “mengendarai motor” seperti dulu saya menikmati lepas tangan saat bersepeda. Itulah tandanya saya siap naik ke “level mobil”, tantangannya pasti lebih berat. Mudah-mudahan ketika sampai di level itu, saya sudah benar-benar lepas tangan. Maksudnya driver yang nganterin kemana-mana =) ya nggak.. kalau udah di level mobil berarti (harusnya) sistem usaha harus sudah berjalan tanpa campur tangan kita. Namun ingat, kunci (kendali) harus tetap di tangan kita ya..

Yang pasti, semua adalah proses. Saya berusaha menikmati setiap proses yang saya lewati..

Sekedar berbagi.

Salam,

Kak Mila

Event Ultah 3th Blogger Bekasi


Temans, Blogger Bekasi atau yang lebih akrab dengan sebutan Beblog bakalan ngegelar acara seru (lagi) nih. Kalo kemarin udah bikin “NgabuburIT bareng IT Sehat”, kali ini dalam rangka ulang tahunnya yang ke-3 BeBlog bikin lagi acara seru yang mengusung tema “3 tahun Blogger Bekasi Semangat Kebersamaan dalam Harmoni Perubahan”. Kapan, apa aja dan siapa aja yang bakal ada di acara ini, langsung aja cek ke TKP buat info yang selengkap-lengkapnya…

Salam,

Kak Mila

Konsep


Saya masih ingat saat pertemuan KPMI di LPMJ Pulo Gadung Sabtu 30 Juni 2012, lalu. LPMJ yang (tampaknya) biasa sepi mendadak ramai karena beberapa forum KPMI digelar disana. Yang pertama, pelatihan pembuatan pembukuan sederhana. Kedua rapat internal pengurus pusat. Ketiga pembahasan wacana Minimarket Muslim. Keempat rapat pengurus pusat (lagi) dengan pembahasan yang beda lagi. Pada rapat pengurus pusat dibahas mengenai beberapa hal diantaranya wacana Jogja Entrepreuneur Camp dan Minimarket. Waktu membahas Entrepreneur Camp, pertanyaan yang hampir selalu keluar dari mulut para peserta rapat adalah “konsepnya seperti apa?”. Buka satu dua orang yang bertanya demikian, hampir semuanya. Akhirnya diputuskan untuk menghubungi si empunya ide agar konsep acara diperjelas. Begitu sampai pada pembahasan Minimarket, ternyata sama. Pertanyaan yang lagi-lagi terlontar adalah “konsepnya dulu mau bagaimana, diperjelas biar semua anggota mempunyai persepsi yang sama tentang konsep minimarket ini.” Saya yang kebanyakan menjadi pendengar setia sebenarnya sudah daritadi menahan ketawa saking seringnya kata-kata “konsep” keluar di forum ini.

***

Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami. Aristoteles dalam “The classical theory of concepts” menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik.*wikipedia

Woodruf mendefinisikan konsep sebagai adalah suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda). Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan objek atau kejadian tertentu.

***

Jadi, konsep adalah gambaran abstak dari suatu ide, yang dinyatakan dalam suatu kata. Untuk merumuskan suatu konsep, tak bisa hanya melalui kata-kata lisan. Tulisan dibutuhkan untuk membuatnya semakin mendekati nyata.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Artinya sama dengan gagasan atau cita-cita. Ide dalam kajian Filsafat Yunani maupun Filsafat Islam menyangkut suatu gambaran imajinal utuh yang melintas cepat. Misalnya ide tentang sendok, muncul dalam bentuk sendok yang utuh di pikiran. Selama ide belum dituangkan menjadi suatu konsep dengan tulisan maupun gambar yang nyata, maka ide masih berada di dalam pikiran.

Ide yang sudah dinyatakan menjadi suatu perbuatan adalah karya cipta. Untuk mengubah ide menjadi karya cipta dilakukan serangkaian proses berpikir yang logis dan seringkali realisasinya memerlukan usaha yang terus menerus sehingga antara ide awal yang muncul di pikiran dan karya cipta satu sama lain saling bersesuaian sebagai kenyataan.

Dalam proses berpikir yang logis itulah konsep terbentuk, dari abstrak lama kelamaan menjadi semakin mendekati sempurna.

Sekarang, apapun ide Anda, tuliskan. Apapun itu, produk, usaha, gambaran masa depan, dll. Satu persatu.. kemudian jabarkan konsep ide tersebut yang tadi begitu beterbangan di khayal Anda. Contoh: Ide membuat tas serbaguna yang cocok untuk dipakai saat anak masih bayi hingga usia tk misalnya. Tuliskan bagaimana gambaran bentuknya, isinya, kebutuhan pemakai, dll. Setelah semua ditulis, cek lagi yang kurang. Apakah jenis bahan yang akan dipakai sudah cocok? Kalau dirasa sudah, saatnya beraksi. Buat sampel dan cari testimoni atas sampel tersebut. Semakin lama ide Anda akan semakin nyata karena konsep semakin jelas.

Semangat Sembuh untuk Sausan (3)


Dua hari lalu saya menerima sms dari Pak Arief ayahanda Sausan yang mengabarkan bahwa ia sudah mengirimkan email tentang perkembangan Sausan. Berikut ceritanya di email:

***

Assalamu’alaikum.

Alhamdulillah kondisi Sausan pagi ini menunjukan ada perkembangan baik / kemajuan. Bicaranya tambah banyak dan tambah jelas. Udah mulai minta nonton TV. Saya rasakan kondisi seperti ini sebenarnya bukan baru kali ini saja. Jauh beberapa waktu lalu sebelum kankernya membesar seperti sekarang, Allah telah menunjukkan beberapa sinyal baik, yaitu membaiknya kondisi Sausan. Waktu itu ketika tumor sudah sebesar kira2 bola tenis, saya niat saya untuk keluar dari bank konvensional tempat saya bekerja semakin kuat. Sausan yang sudah sekian bulan hanya bisa tiduran dan duduk pun hanya sebentar, tiba – tiba turun dan berjalan sendiri walau tertatih – tatih , limbung, dan akhirnya terjatuh. Namun semangatnya tetap terus menguat. Namun qadarallah syaithon terus dengan kuat pula membisikkan was was kepada saya sehingga akhirnya saya tunda lagi untuk resign dari bank padahal saya sudah mengetahui keharaman bekerja di bank. Dan akhirnya qadarallah pula, kondisi Sausan memburuk lagi seperti sekarang dengan pembesaran tumor yang sudah sedemikian rupa.

Kedatangan Ustadz Achmad Sabtu lalu alhamdulillah menghasilkan pencerahan kepada saya. Ustadz Achmad memberi nasehat dan saran kuat kepada saya untuk segera membuat surat pengunduran diri dari bank tempat saya sekarang bekerja. Saya sempat ragu karena justru saat Sausan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya, saya malah keluar dari tempat saya sekarang bekerja sementara belum ada pengganti nafkah lain. Memang selama 2 tahun perjalanan sakitnya Sausan, saya sudah berikhtiar untuk melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Namun qadarallah sampai sekarang belum berhasil. Insya Allah hari ini saya akan membuat surat pengunduran diri dan otomatis saya tidak perlu lagi mengurus kepastian pertanggungan asuransi kesehatan Sausan yang merupakan salah satu fasilitas dari kantor. Ustadz Achmad sangat meyakinkan saya bahwa insya Allah dengan saya resign dari bank, Allah akan memberikan keputusan yang terbaik untuk Sausan, dan harapan dan doa kita semoga Allah memberi kesembuhan kepada Sausan.

Kemarin sore Profesor Djaya yang merupakan dokter inti Sausan visit untuk yang pertama kalinya dan dia berpendapat bahwa kemungkinan kesembuhan Sausan tinggal 20%-30%. Alhamdulillah saya dan istri sama sekali tidak terpengaruh oleh pendapat dokter tersebut karena yakin hakikinya semua itu adalah hak prerogatif Allah. Qadarallah Pak Agus, istru Bu Rinny sedang besuk Sausan dan mendengar semua dialog antara saya dengan Prof.

Menurut Prof, kemo terapi dan penyinaran tidak bisa banyak membantu untuk mengecilkan / membunuh sel tumor Sausan karena kemungkinan besar penyebaran sudah kemana – mana. Sedangkan untuk operasi pengangkatan bola mata, tumor harus mengecil dulu untuk menghindari pendarahan hebat saat operasi. Bisa dibayangkan betapa panjang waktu dan tahapan yang diperlukan Sausan dalam terapi medis ini.

Subhanallah, sepertinya team dokter sudah pesimis / mentok. Saya pun semakin yakin saya harus segera mengundurkan diri dari bank tempat saya bekerja sekarang tanpa harus mempedulikan masalah asuransi dan pengganti nafkah terlebih dahulu.

Hanya yang saya bingung dan bimbang, apakah treatment versi medis masih tetap terus diperlukan, mengingat tahapan2 yang akan dilalui Sausan cukup panjang dan melelahkan untuk Sausan, dan itu pun menurut teori kedokteran, kemungkinan sembuhnya hanya 20%-30%. Khawatir Sausan semakin menderita. Tapi kalau diteruskan dengan terapi herbal, qadarallah sampai sekarang belum ada ramuan herbal yang terbukti bisa mengecilkan / menghilangkan tumor mata Sausan.

Arief

***

Mohon maaf karena kesibukan saya yang sedang UAS, baru hari ini saya bisa posting cerita kepada teman-teman.

Saya tidak  bisa banyak berkomentar. Pasti sebuah pilihan yang sulit untuk Pak Arif mengundurkan diri dari pekerjaan ditengah sakitnya Sausan. Tapi itulah kemantapan hati. Seperti sebuah nazar, menurut Pak Arif-ketika saya berbincang dengannya di telepon- dulu ia pernah berniat dalam hati apabila Sausan memperlihatkan perkembangan baik, ia akan resign dari pekerjaannya di sebuah bank konvensional dan mencari pekerjaan baru yang bebas dari riba atau berwirausaha saja. Tapi niat tersebut selalu ditunda dengan alasan ragu-ragu dan was-was. Dan kali ini, seperti ditegur, Sausan pun menunjukkan perkembangan baik, nazar itupun ditagih. Maka, tak mau melewatkan momen ini, Pak Arif segera memutuskan untuk resign.

Mungkin akan banyak diantara kita yang bertanya dengan keputusan ini, tapi teman, itulah hidup. Ada hal yang tidak bisa dibohongi di dalam hati kita tentang keberadaan Tuhan. Keberadaan Allah. Menurut Ust. Ahmad yang sekarang sedang menangani terapi Sausan, salah satu hal yang akan membantu proses penyembuhan adalah bersihnya diri kita dari hal-hal yang haram. Ust. Yusuf Mansur yang belum lama ini juga sempat berbincang dengan Ust. Ahmad ttg keadaan Sausan juga sependapat dengan pendapat tersebut, bahwa beratnya penyakit bukan hanya disebabkan dari hal-hal yang bersifat fisik tapi juga dari penyebab-penyebab abstrak.

Sebagai orang awam, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Sausan. Semoga semakin banyak doa semakin meringankan juga beban sakitnya. Barusan saya menerima info bahwa malam ini TVOne akan menayangkan berita Sausan di acara Apa Kabar Malam pukul 20.30 – 23.00, semoga ada di antara kita yang menonton untuk mengetahui perkembangan kondisi Sausan.

 

Apabila teman2 bermaksud memberi bantuan materil buat Ananda Sausan, dapat mengirimkan bantuannya ke :

Rekening a/n Bapak Arief Muslim (orangtua Ananda Sausan)

BCA ACC# 1281362025

Bank Bukopin ACC# 0101048377

 

Wallahua’lam bishshowwab..

Menghargai Kejujuran Anak


“Kamu sudah minum susunya?”, tanya seorang ibu kepada anaknya

“sudah Ma?”, jawab si anak

“yang bener?”, tanya si ibu lagi meragukan jawaban anaknya

“bener sudah”, jawab si anak

“hmh..??”, ragu ibu mulai mengganggu anak

“sudah!!”, si anak pun menjawab dengan kesal

***

“Kamu mencuri uang Mama ya!!!!!”, bentak seorang ibu kepada anak laki-lakinya.

“nggak Ma”, jawab si anak tenang

“aaaaaah, jangan bohong deh!! Mama tau, cuma kamu yang ada disini dari tadi, emang tu duit mau diambil tikus!!!!” bentak si ibu lagi, lebih keras dari bentakan sebelumnya

“ENGGAK! BENER, ENGGAK!”, sahut si anak laki-laki dengan keras menyaingi bentakan ibunya.

“Udah ngaku aja, emang mau jadi maling ya!! emang Mama pernah ngajarin kamu untuk nyuri??!! HAH!!! DASAR KURANG AJAR!!”, lagi-lagi si ibu membentak, tak percaya sedikit pun dengan tuturan sang anak.

Selanjutnya terdengar isakan tangis si anak, awalnya pelan lama-lama terdengar jelas isakannya. Ia berkali-kali menjawab bahwa bukan ia yang mencuri uang tersebut, tapi berkali-kali pula ia disambut dengan bentakan dari sang ibu. Terdengar suara omelan si ibu tak berhenti walau sang anak sudah tersedu-sedu. Walau tak melihat kejadiannya, terbayang si anak duduk menggigil ketakutan di sudut ruang dengan sesenggukan mempertahankan jawabannya.

***

Dua contoh diatas hanya sedikit kasus dari “tidak menghargai kejujuran”. Contoh yang pertama kelihatannya sederhana dan menurut logika orang dewasa tentu tak menimbulkan trauma kepada anak. Padahal anak sangat mengingat pengalaman tersebut dengan baik karena anak 90% belajar melalui hal yang dikatakan dan dialaminya.

Kasus kedua lebih lagi, secara terang-terangan si ibu menyalahkan anaknya untuk hal yang belum pasti ia lakukan. Menuduh termasuk perbuatan yang menyebabkan trauma pada anak,  tidak ada bedanya dengan bullying.

Saya suka heran, apa susahnya menghargai jawaban anak? apalagi kalau kita belum tau pasti mengenai tuduhan kita. Hargailah kejujuran mereka, jangan memaksa mereka untuk berbohong demi membuat kita diam.  Apa susahnya mendengar penjelasan mereka dan menerima dengan lapang jika terbukti bukan dia yang bersalah. Menuduh memang lebih mudah ketimbang ribet-ribet mencari tau terlebih dahulu tentang kebenaran hal yang ingin kita tanyakan. Tapi akibat dari tuduhan tak beralasan tersebut akan terbawa dalam memori anak sepanjang hidupnya.

Maka jangan salahkan ketika seorang anak yang terbiasa mendengar tuduhan dan tak dihargai kejujurannya kelak ketika ia beranjak dewasa akan lebih senang mengutarakan kebohongan. Karena ia tau, orang tua lebih puas dan tenang dengan jawaban bohongnya, bukan sebaliknya dengan kejujuran mereka.

***

“De, kamu masih suka main sama si A ya.. kan mama udah bilang jangan bergaul sama dia, dia itu orangnya bla bla bla…”

“Enggak..”

“Oh yaudah, sukur deh Mama lega dengernya. Soalnya si A itu bla bla bla…”

*si anak bakal cengar-cengir kayaknya karena berhasil bikin mamanya diam nggak ngebentak-bentak. Padahal selama si ibu ngedumel, si anak lagi sms-an sama si A yang lagi diributin tadi..