The Pursuit Of Happyness ~ Mengejar Kebahagiaan


Waktu nemu film ini, saya belum pernah sama sekali dengar judulnya. Saya juga tidak pernah tau siapa yang beli cd nya (mungkin adik saya). Yang pasti cd film itu sudah bertumpuk dengan puluhan judul lainnya di rak buku saya. Keputusan saya akhirnya menonton film itu adalah pertama karena aktornya si Will Smith, saya ini termasuk salah satu penggemar negro paling ganteng itu (menurut saya lho =D) udah pasti aktingya keren banget. Kedua karena di cover film nya gak cuma ada mas Will, tp ada anaknya juga. Jadi bener-bener saya gak tau apapun tentang film ini selain karena Will Smith nya. Tanpa baca sinopsis di cover belakang, saya langsung tonton film ini, sendirian..

Nonton mas Will dengan latar belakang tahun ’80an, dalam kondisi yang miskin banget, jadi kasian.. *gak nyambung..

let’s serious

Di film ini, Will Smith adalah Chris Gardner, seorang salesman alat scanner tulang yang tinggal bersama istri dan 1 anaknya, Christopher, di rumah kontrakannya. Karena sukses jualan, dia putuskan untuk membeli stok alat tersebut dalam jumlah banyak . Apa daya, begitu uang habis, barang banyak, gak semuanya habis terjual. Tiba-tiba saja uang yang mereka kumpulkan sudah habis untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, sementara alat scanner masih banyak bertumpuk di sudut ruangan.

Linda, istri Chris, memutuskan untuk bekerja lagi di binatu. Sedangkan anak mereka setiap hari dititipkan di sekolah. Chris sendiri bingung mau bagaimana, tapi setiap hari ia tetap keluar rumah dengan setelan jas lengkap membawa satu atau dua alat scanner nya, menjajakan door to door ke tempat praktek dokter yang ia lewati. Sepanjang perjalanannya seringkali ia meratapi nasibnya, dari seorang bintang kelas yang rasanya hampir semua pekerjaan harusnya bisa ia masuki dengan mudah, tiba-tiba menghadapi kenyataan dirinya berada di pinggir jalan menjajakan mesin scanner tulang.

Keadaan ini berlangsung berbulan-bulan sampai akhirnya sang istri memutuskan untuk meninggalkan Chris. Ia tak bisa melarang istrinya untuk meninggalkannya, ia hanya memohon untuk tidak membawa anaknya. Ia bersikukuh menjaga anaknya bersamanya. Maka dimulailah petualangan ayah-anak mencari kebahagiaan mereka.

Dalam satu perjalanannya menjajakan mesin scanner, ia melewati sebuah mobil mewah berwarna merah dan memandanginya. Ketika ia berpikir tentang bagaimana orang bisa mendapatkan mobil seperti ini, datanglah si empunya mobil. Dengan ramah ia bertanya pada orang tersebut “bagaimana anda bisa membeli mobil mewah seperti ini?” sang pemilik menjawab “dari sana”, katanya sambil menunjuk gedung tinggi di belakangnya. Gedung tersebut adalah kantor pialang Dean Witter. Si pemilik mobil memberi bocoran kalau peserta magang yang terbaik di kantor tersebut bisa mendapatkan pekerjaan tetap dengan penghasilan tinggi, namun dalam masa magang tidak ada gaji sama sekali. Berbekal tekad mengubah nasib, Chris nekat masuk kedalam kantor tersebut dan mendaftar sebagai peserta magang. Namun interview pertama sudah kurang meyakinkan untuk ia bisa diterima..

Singkat cerita, begitu ia diterima magang di kantor pialang tersebut tanpa gaji, tentu saja hidupnya jadi tambah berantakan. Setiap hari ia harus membawa 1 koper baju (karena sudah diusir dari kontrakan), menggandeng bocah, dan menenteng 1 mesin scanner yang tersisa sebagai harapan terakhir punya uang berlebih.

Cerita menjadi semakin trenyuh setiap kali ia harus pulang jalan kaki atau mengejar bus untuk mengejar kamar penampungan di gereja dimana ia harus mengantri untuk mendapat tempat disana. Ya, ia mengantri bersama ratusan gelandangan di kota itu, berebut satu kasur kosong untuk satu malam tidur tanpa tau esok tidur dimana lagi karena belum tentu ia masih mendapatkan tempatnya disitu. Saya nangis ketika tiap kali ia tidur memeluk anaknya, dengan tatapan kosong dan airmata yang mengalir. Pasti panas..

Kerasnya hidup tersebut berada di ujung tanduk ketika ia harus menghadapi hari terakhir magang tanpa mendapatkan satu orang pun klien selama masa magangnya. Ia sudah pasrah dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Ketika akhirnya ia dipanggil ke meja dewan direksi dan mendapatkan ucapan selamat dari perusahaan yang memutuskan menerimanya sebagai pegawai tetap karena ketekunan dan keramahannya melayani orang, ia tidak dapat lagi berkata-kata. Ia segera keluar dari ruangan, bahkan dari gedung tersebut, berjalan membaur ketengah kerumunan orang yang berlalu lalang di jalan, emosi Will Smith bener-bener “dapet” banget, untuk meluapkan kebahagiaannya. Orang pertama yang ia jumpai adalah anaknya, Christopher. Chris berlari menuju tempat penitipan anaknya, dan masuk kedalam kelas hanya untuk memeluknya, tanpa kata-kata.

Dalam kehidupan nyata, beberapa tahun setelah Chris Gardner bekerja di perusahaan pialang tersebut, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu.
Film yang inspiratif dan menguras emosi.

Dari sekeping cd yang tidak bertuan, menjadi salah satu film favorit saya. Dan saya selalu menontonnya ketika saya butuh tambahan energi untuk bangkit dari kejemuan.
Selamat menonton..

Salam,

Kak Mila

baca juga:

resensi film The Pursuit Of Happyness versi Wikipedia